Selain itu, Eri Cahyadi juga menyoroti adanya perbedaan waktu pelaksanaan Salat Idulfitri yang terjadi di tengah masyarakat.
Baca Juga: Iran Ancam Netanyahu di Tengah Perang, Drone Buru Pasukan AS
Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan seharusnya tidak menimbulkan perdebatan yang dapat merusak persatuan.
"Ada yang salat kemarin, ada yang hari ini. Perbedaan itu adalah keindahan, jangan pernah saling menyalahkan. Keyakinan itu masing-masing, yang penting tidak saling menjatuhkan atau menjelekkan. Kita manusia tempatnya salah, maka tugas kita adalah saling mengingatkan dan menguatkan," tambahnya.
Ia berharap semangat toleransi serta nilai-nilai kebersamaan yang telah terjaga di Surabaya dapat terus dipertahankan dan diperkuat demi menciptakan kota yang harmonis dan sejahtera.
Dalam khutbahnya, Abdul Kadir Riyadi juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga perdamaian sebagai dasar membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan empat pilar misi kemanusiaan yang dapat dijadikan pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, tanpa adanya perdamaian, berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, perekonomian, hingga aktivitas pemerintahan tidak akan dapat berjalan dengan baik.
Baca Juga: Jelang Libur Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Modus Penipuan File APK
“Marilah kita pastikan Kota Surabaya ini, menjadi kota yang meyebarkan virus-virus positif berupa kedamaian, ketentraman dan keamanan yang selamat ini sudah kita lihat di Surabaya dan harus terus ditingkatkan,” terangnya.
Setelah rangkaian Salat Idulfitri selesai, para jemaah kemudian melanjutkan kegiatan dengan saling bersalaman dan bermaafan satu sama lain.
Suasana hangat dan penuh kebersamaan pun terasa di halaman Balai Kota Surabaya yang menjadi titik berkumpulnya masyarakat dalam merayakan hari kemenangan tersebut. (gha)