• Sabtu, 18 April 2026

Prabowo: Tingkat Pengangguran Indonesia Turun, Terendah Sejak 1998 Menurut Data BPS

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Jumat, 22 Agustus 2025 | 13:55 WIB
Presiden Ri Prabowo Subianto menyebut angka pengangguran di Indonesia menurun.  (Instagram/presidenrepublikindonesia)
Presiden Ri Prabowo Subianto menyebut angka pengangguran di Indonesia menurun. (Instagram/presidenrepublikindonesia)

WartaJatim.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kabar baik mengenai kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Dalam pidato kenegaraan pada Jumat, 15 Agustus 2025, Prabowo menyebut tingkat pengangguran nasional kini turun dan bahkan menjadi yang terendah sejak 1998. Capaian tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dinilai kredibel.

Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, menyambut positif pencapaian tersebut. Menurutnya, data BPS harus dijadikan pegangan publik sekaligus bahan evaluasi.

“Itu jadi bahan refleksi sekaligus evaluasi untuk mengkonfirmasi data BPS tersebut dengan kondisi realitas lapangan,” ujar Zainul kepada wartawan, Sabtu, 16 Agustus 2025.

Zainul menambahkan, antusiasme masyarakat yang hadir dalam berbagai job fair mencerminkan semangat untuk berkontribusi di dunia kerja. Hal itu menjadi sinyal bagi pemerintah maupun dunia usaha untuk memperluas kesempatan kerja.

Baca Juga: Prabowo Siapkan Rp402,4 Triliun untuk Ketahanan Energi dalam RAPBN 2026

Ia pun mendorong sejumlah langkah strategis guna menjaga momentum positif. Menurutnya, pemerintah perlu membenahi iklim investasi agar semakin ramah bagi investor.

“Ekonomi biaya tinggi harus ditekan, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) juga harus ditekan di angka 4 persen,” tegasnya.

Selain itu, hilirisasi industri dinilai penting untuk menarik investasi padat modal yang mampu mendorong industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja massal. Zainul juga menyoroti pentingnya pendidikan vokasi. Ia menilai sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja harus diperluas, mengingat anggaran yang ada masih terbatas.

Baca Juga: IHSG Sempat Sentuh 8.000 saat Pidato Prabowo, Ditutup Melemah Tipis di Sesi Pertama

“Anggaran untuk sertifikasi kompetensi melalui BNSP harus diperbanyak, jangan hanya 150 ribu/tahun,” katanya. Dengan tenaga kerja bersertifikasi, Zainul optimistis Indonesia akan memiliki SDM yang lebih kompetitif. “Hari ini pasar kerja lebih menyukai tenaga kerja bersertifikasi kompetensi, bukan hanya yang pegang ijazah,” pungkasnya.

(HCY)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: Promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X