• Sabtu, 18 April 2026

Evaluasi MBG: DPR Tekankan Perbaikan Sanitasi, Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur Aman Bergizi

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Selasa, 30 September 2025 | 14:25 WIB
Ketua Banggar DPR, Said Abdullah usul rehabilitasi kantin jadi dapur MBG.  (instagram/mh_said_abdullah)
Ketua Banggar DPR, Said Abdullah usul rehabilitasi kantin jadi dapur MBG. (instagram/mh_said_abdullah)

WartaJatim.CO.ID - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Desakan itu muncul setelah ribuan siswa di sejumlah daerah mengalami keracunan massal akibat makanan yang disajikan melalui program tersebut.

“Bebannya terlalu berat kalau 3.000 (porsi), diselesaikan saja 1.000 (porsi) atau pemerintah dalam hal ini mengambil posisi yang ekstrem, langsung dapur MBG di sekolah-sekolah,” ujar Said kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senin (29/9/2025).

Baca Juga: Tragedi Keracunan Massal MBG di KBB: Fakta Bakteri Pembusuk hingga Usulan Dapur Sekolah

Politisi PDI Perjuangan itu mengusulkan agar kantin sekolah direhabilitasi dan dialihfungsikan menjadi dapur MBG. Dengan begitu, pengolahan makanan bergizi hanya akan difokuskan pada kebutuhan siswa di sekolah tersebut.

Langkah ini diyakini bisa meringankan beban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini harus menyiapkan hingga 3.000 porsi per hari. Selain soal beban produksi, Said menilai dapur di sekolah akan lebih mudah diawasi, terutama terkait aspek sanitasi dan higienitas.

“Sehingga kantin sekolah direhab, diperbaiki, kemudian bagaimana dicek sanitasinya, dan cakupannya hanya di sekolah itu saja. Itu akan lebih luar biasa,” jelasnya. 

Baca Juga: Said Abdullah Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur MBG usai 5.620 Siswa Keracunan

Kasus keracunan massal yang dialami sekitar 5.620 siswa, menurut Said, menjadi bukti bahwa program MBG perlu diperbaiki. Hasil pemeriksaan menemukan makanan yang terkontaminasi bakteri akibat bahan pangan tidak segar dan proses pengolahan yang tidak sesuai standar kebersihan. 

“Muncul isu bagaimana tentang anggarannya, saya berpendapat kalau memang harus dievaluasi secara menyeluruh silakan evaluasi. Tidak hanya anggaran, tapi mekanismenya, juga pada expert yang menangani soal gizi,” tambahnya.

Said juga menyoroti keterbatasan kapasitas penyimpanan bahan makanan di lapangan. Ia meragukan SPPG mampu menjaga kualitas ribuan porsi makanan per hari tanpa dukungan fasilitas penyimpanan modern.

Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Sadikin Ungkap Strategi Baru Atasi Keracunan MBG: SPPG Wajib SLHS, Puskesmas Ikut Awasi

“Kalau 3.000 itu, saya tidak yakin kalau SPPG tidak punya cool storage, penyimpanan dan sebagainya, tiba-tiba dia belanja harian, walah, tidak akan punya kemampuan,” pungkasnya.

Program MBG sendiri merupakan salah satu janji kampanye Presiden Prabowo yang mulai dijalankan sejak awal masa pemerintahannya. Tujuannya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia melalui pemberian makanan bergizi di sekolah. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X