berita

Trauma Banjir Bandang Aceh Tamiang Masih Membekas, Warga Langsung Mengungsi ke Masjid Saat Hujan Turun dan Sulit Dapat Air Bersih

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:50 WIB
Menyoroti kabar terkini para pengungsi banjir bandang di Aceh Tamiang yang disebut masih dibayangi trauma atas bencana yang pernah melanda. (Instagram.com/@masjidnurulashri) (Instagram.com/@masjidnurulashri)

wartajatim.CO.ID - Rasa aman masih menjadi hal yang sulit dirasakan oleh sebagian warga Aceh Tamiang, meski hampir tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menghantam wilayah tersebut.

Trauma yang ditinggalkan bencana itu belum sepenuhnya hilang, terutama ketika hujan kembali turun dan mengingatkan mereka pada peristiwa memilukan yang pernah terjadi.

Setiap kali langit mulai mendung dan hujan turun, sejumlah warga dilaporkan segera meninggalkan tempat tinggal sementara mereka untuk menuju masjid terdekat.

Masjid kini menjadi tempat yang dianggap paling aman, sekaligus memberikan ketenangan bagi warga yang masih diliputi rasa takut.

Baca Juga: Viral Video Warga Aceh Tamiang Ungkap Kondisi Sehari Setelah Banjir November 2025 Surut, Jalan Lumpur hingga Ternak Mati

Dalam unggahan akun Instagram @masjidnurulashri pada 16 Februari 2026, tergambar jelas kondisi psikologis warga yang masih belum pulih sepenuhnya dari trauma bencana.

"Di Aceh Tamiang, jangankan berpikir makan apa esok hari, kebanyakan warga di sini kalau hujan masih lari ke masjid," tulis unggahan tersebut.

Respons spontan itu muncul karena memori tentang banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 masih sangat kuat. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan besar, memaksa warga kehilangan rumah, serta mengubah kehidupan mereka secara drastis.

Kecemasan warga bahkan muncul saat hujan turun dengan intensitas ringan. Banyak dari mereka memilih mengungsi ke masjid untuk berjaga-jaga dan mencari rasa aman.

Baca Juga: H-5 Ramadan, Tangis Warga Aceh Tamiang Pecah Kenang Sahur di Rumah Usai Banjir Bandang

"Kalau hujan turun sedikit saja, warga di sini langsung was-was, masih banyak yang harus mengungsi ke masjid, numpang aman semalaman," lanjut unggahan itu.

Selain trauma psikologis, warga juga masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan dasar, terutama air bersih. Kerusakan infrastruktur membuat akses air bersih menjadi terbatas dan tidak mudah dijangkau.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus berjalan kaki sambil membawa ember menuju sumber air yang tersedia. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

"Air bersih pun nggak tinggal buka keran, mereka harus bawa ember, jalan kaki cukup jauh, demi bisa masak dan bertahan," tulis unggahan tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini