berita

Target Ambisius! Airlangga Hartarto Ungkap Strategi Turunkan ICOR ke 4 dalam 4 Tahun!

Selasa, 14 Januari 2025 | 15:00 WIB

Jakarta, 13 Januari 2025 - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa penurunan level Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ke angka 4 tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Ia menegaskan bahwa proses ini memerlukan waktu yang lebih lama, yakni sekitar 3 hingga 4 tahun ke depan.

Perlu program lebih panjang karena ICOR terkait dengan investasi, jadi enggak bisa instan. Jadi dalam ICOR ke 4 itu target kita dalam 3—4 tahun ke depan," ujarnya saat memberikan keterangan pers di Raffles Hotel Jakarta pada Senin.

Pentingnya ICOR dalam Pertumbuhan Ekonomi
ICOR adalah indikator yang menunjukkan jumlah investasi yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1%. Dengan kata lain, setiap peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 1% membutuhkan peningkatan investasi sebesar 6,5%. Jika nilai ICOR tetap di angka 6,5, maka untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo Subianto sebesar 8%, Indonesia memerlukan pertumbuhan investasi hingga 52%. Namun, jika ICOR dapat diturunkan ke angka 3, Indonesia hanya perlu pertumbuhan investasi sebesar 19,5% untuk mencapai target yang sama.

Airlangga menekankan pentingnya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk mencapai target ICOR yang lebih rendah. Salah satu contoh yang disebutkan adalah KEK Weda Bay di Maluku Utara, yang dengan nilai investasi sebesar US$16 miliar mampu melakukan ekspor hingga US$8 miliar per tahun. "Jadi untuk mencapai ICOR 4, kita perlu mengembangkan lebih banyak KEK, sehingga kita bisa mengungkit KEK dengan kawasan lain," lanjutnya.

Fokus pada KEK dan Pariwisata
Selain mendorong KEK berbasis industri hilirisasi, pemerintah juga berharap dapat mengembangkan KEK berbasis pariwisata. Namun, Airlangga mengakui bahwa harga tiket pesawat masih menjadi persoalan yang perlu diselesaikan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata. "Kita perlu memastikan bahwa aksesibilitas ke destinasi pariwisata kita tidak terhambat oleh biaya transportasi yang tinggi," ujarnya.

Optimalisasi INSW untuk Menekan ICOR
Dalam upaya menurunkan ICOR, Airlangga bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mendorong optimalisasi Indonesia Nasional Single Window (INSW). Sri Mulyani menjelaskan bahwa perbaikan sistem dan integrasi antar kementerian/lembaga (K/L) dapat mengurangi biaya dan waktu, serta memberikan kepastian dalam proses ekspor-impor Indonesia. "Jadi bisa mengurangi biaya dan waktu dan memberi kepastian kepada dunia usaha untuk ekspor-impor. Iya [ini salah satu untuk menurunkan ICOR]," ujarnya kepada media massa usai Rapat Koordinasi INSW bulan lalu.

Tantangan Efisiensi dan Peringkat Indonesia
Masalah efisiensi dalam investasi dan bisnis di Indonesia telah menjadi sorotan Bank Dunia. Dalam laporan B-Ready 2024, yang menggantikan Ease of Doing Business, Indonesia masih berada di bawah rata-rata 50 negara dalam pilar Regulatory Framework dan Operational Efficiency. Hanya satu pilar yang berada di atas rata-rata, yaitu pada pilar Public Service dengan capaian 63,44 poin, yang menempatkan Indonesia satu peringkat di bawah Kosta Rika dan tiga peringkat di atas Hong Kong.

Strategi untuk Meningkatkan Daya Saing
Untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global, Airlangga menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. "Kita perlu menciptakan ekosistem yang mendukung investasi, termasuk infrastruktur yang memadai dan regulasi yang ramah investasi," katanya. Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dan teknologi dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Rencana Jangka Panjang
Airlangga menjelaskan bahwa penurunan ICOR ke level 4 adalah bagian dari rencana jangka panjang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kami berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi, dan ini akan menjadi fokus utama kami dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan dalam mencapai target ini akan sangat bergantung pada implementasi kebijakan yang konsisten dan dukungan dari semua pemangku kepentingan.

Kesimpulan
Dengan target ambisius untuk menurunkan ICOR ke level 4 dalam 3-4 tahun ke depan, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto berkomitmen untuk meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi. Melalui pengembangan KEK dan optimalisasi sistem INSW, diharapkan Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diinginkan, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing di tingkat global. Keberhasilan dalam mencapai target ini akan sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan investasi yang lebih baik.

Harapan untuk Masa Depan
Ke depan, diharapkan pemerintah Indonesia dapat lebih proaktif dalam mengkomunikasikan visi dan strategi kebijakan luar negeri yang berfokus pada ASEAN. Hal ini termasuk memperkuat kerjasama di bidang ekonomi, keamanan, dan sosial budaya. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya akan menjadi pemimpin di ASEAN, tetapi juga dapat berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan kawasan yang lebih stabil dan sejahtera.

Lina dan Andrew Mantong berharap agar pemerintah dapat mendengarkan masukan dari para ahli dan masyarakat sipil dalam merumuskan kebijakan luar negeri yang lebih inklusif dan responsif terhadap tantangan yang dihadapi ASEAN. “Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mendengarkan dan melibatkan semua pihak,” tutup Lina.

Tags

Terkini