• Sabtu, 18 April 2026

Rujukan Berbasis Kompetensi di Jatim, Puguh DPRD Jatim Paparkan Peluang dan Risiko

Photo Author
Novi Embun Tristiani, Wartajatim.co.id
- Sabtu, 13 September 2025 | 10:31 WIB
Puguh Wiji nilai Jatim perlu percepat kesiapan SDM di perubahan sistem ini. (Foto: Dok. Fraksi PKS Jatim)
Puguh Wiji nilai Jatim perlu percepat kesiapan SDM di perubahan sistem ini. (Foto: Dok. Fraksi PKS Jatim)

Wartajatim.co.id - Gagasan Kementerian Kesehatan untuk meninggalkan klasifikasi rumah sakit tipe A, B, C, D dan RS khusus menuju standar berbasis kompetensi memantik diskusi hangat di Jawa Timur.

Skema anyar ini menaruh kompetensi layanan sebagai kompas utama arah rujukan, bukan lagi sekadar label tingkatan fasilitas.

Puguh Wiji Pamungkas, Anggota Komisi E DPRD Jatim sekaligus Sekretaris Fraksi PKS, melihat kebijakan tersebut sebagai pedang bermata dua: peluang pemerataan akses sekaligus tantangan kesiapan daerah.

Baca Juga: Ketua TP-PKK Bangkalan Lutfiana Lukman Hakim Tegaskan Cegah Perkawinan Anak dan Perluas Akses Kesehatan Masyarakat

Menurutnya, kalau disusun matang, peta rujukan akan lebih efisien; namun tanpa persiapan, risiko kebingungan publik dan ketimpangan mutu bisa mengemuka.

Ia menerangkan bahwa alur rujukan akan mengikuti kekuatan layanan masing-masing rumah sakit. 

RS yang sudah paripurna di layanan tertentu boleh menerima pasien langsung dari fasilitas yang kompetensinya masih dasar atau madya.

“Kalau sebelumnya masyarakat diarahkan berjenjang dari RS tipe D ke C, lalu B dan A, ke depan sistemnya berubah. Rujukan akan langsung ditentukan berdasarkan kompetensi layanan yang dimiliki rumah sakit,” jelas Puguh.

Baca Juga: Lumajang Raih Akreditasi Paripurna di Seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit dengan Layanan Digital Inklusif

Dalam kacamata Puguh, manfaat pertama yang terasa adalah berkurangnya penumpukan pasien di RS rujukan besar tingkat nasional/provinsi.

Pasien tak harus selalu menuju RS tipe A seperti RSUD dr. Soetomo jika RSUD kabupaten/kota setempat telah memenuhi kompetensi paripurna pada layanan yang dibutuhkan.

“Ini jelas bisa mengurangi beban rumah sakit besar, sekaligus mendekatkan akses layanan bagi masyarakat di daerah,” papar Puguh.

Meski begitu, ia mengingatkan prasyarat penting berupa literasi publik kesehatan. Warga perlu paham layanan apa yang tersedia di RS terdekat agar tidak salah memilih tujuan. 

Baca Juga: Sabun vs Hand Sanitizer, Mana yang Lebih Efektif Bunuh Kuman? Ini Penjelasan Ahli Kesehatan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novi Embun Tristiani

Sumber: WartaJatim.co.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X