Produk yang dihasilkan semakin beragam dengan harga bervariasi mulai Rp15 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan jenis kerajinan.
Untuk distribusi, Hani dan suami memilih ekspedisi lokal agar masyarakat sekitar ikut merasakan manfaat dari usaha ini.
Selain itu, mereka membuka lapangan kerja bagi tetangga sekitar, membantu warga yang sebelumnya menganggur untuk terlibat dalam proses produksi.
Kerajinan jati ini kini tidak hanya diminati di Bojonegoro, tetapi juga dikirim hingga Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
“Dulu omzet bisa mencapai Rp25–30 juta per bulan, sekarang turun di kisaran Rp15–20 juta,” jelas Hani.
Meski omzet berfluktuasi, Hani menegaskan bahwa kerajinan kayu jati bukan sekadar soal angka, melainkan warisan keluarga dan identitas diri.
“Kadang rasanya berat, apalagi ketika pasar sepi. Tapi saya percaya usaha ini bukan sekadar pekerjaan, ini amanah keluarga,” tambahnya.
Baca Juga: Pramono Anung Rencanakan Memorial Fasilitas Umum Rusak Akibat Demo Agustus 2025
Lebih dari mencari nafkah, setiap produk kayu jati mencerminkan ketekunan, cinta, dan kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Saya berharap kerajinan ini bisa terus berkembang, bukan hanya untuk keluarga saya, tetapi juga menjadi kebanggaan Kasiman dan Bojonegoro. Semoga masyarakat makin mencintai produk lokal, karena setiap karya punya cerita dan jiwa di dalamnya,” pungkas Hani. (gha)