• Sabtu, 18 April 2026

Perayaan Lebaran dengan Tradisi Meriam Karbit di Pontianak

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Kamis, 3 April 2025 | 16:00 WIB
Tradisi Meriam Karbit di Pontianak (https://www.menpan.go.id/).
Tradisi Meriam Karbit di Pontianak (https://www.menpan.go.id/).


WartaJatim.CO.ID
- Meriam Karbit merupakan salah satu tradisi unik di Indonesia tepatnya di Pontianak. Tradisi meriam karbit biasanya ditemukan di tepi Sungai Kapuas yang akan diledakkan tiga hari sebelum Idul Fitri.

Tradisi ini dulunya berfungsi sebagai penanda waktu magrib pada bulan puasa, mengingat pada saat itu populasi penduduk Pontianak masih jarang dan terpisah-pisah.

Awalnya warga menggunakan batang kayu kelapa untuk membuat meriam, akan tetapi karena waktu pemakaian yang hanya bisa sekali, akhirnya warga melakukan inovasi dengan mengganti ke kayu laban.

Baca Juga: Indosat Ooredoo Hutchison Perkuat Jaringan dengan AI untuk Hadapi Lonjakan Konektivitas di Ramadan dan Lebaran

Meriam dibuat menggunakan batang kayu laban lalu bagian tengahnya dilubangi, kemudian diisi dengan kalsium karbida atau biasa dikenal dengan batu karbit.

Setelah terisi batu karbit, meriam akan dinyalakan dan disulut dengan api dalam obor yang akan meledakkan meriam tersebut dan membuat suara yang menggelegar.

Di tahun 1985, polisi sempat merazia permainan ini dan melarangnya dengan alasan mengganggu ketenangan warga.

Baca Juga: 5 Ucapan Lebaran Anti Mainstream, Dijamin Berbeda!

Ada juga desas-desus bahwa pengusaha swamil merasa beberapa batang kayunya hilang entah kemana.

Namun akhirnya pemerintah mengizinkan pesta meriam karbit pada satu atau dua hari sebelum lebaran dan satu hari sesudahnya, itu pun dengan batasan tertentu.

Butuh beberapa tahun hingga tradisi ini dapat dilakukan dengan bebas oleh warga Pontianak. Bahkan tradisi ini sudah dijadikan festival.

Baca Juga: Siap Mudik? Simak 9 Aplikasi Wajib yang Bisa Bikin Perjalanan Lebaran Jadi Lebih Mudah

Meriam dimainkan selepas senja hingga lewat tengah malam terutama puncaknya di malam takbiran. Sekitar 250 meriam yang tersebar di sepanjang Sungai Kapuas saling bersaut dentuman.

Agar menarik perhatian masyarakat, kayu yang memiliki panjang empat hingga tujuh meter dengan diameter mencapai 50 centimeter tersebut dicat warna warni dan ada juga yang dibungkus dengan kain berbagai motif.

Tradisi Meriam Karbit sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bridgeta Elisa Putri

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X