“Jika dibandingkan dengan seluruh kota di Jawa Timur, deflasi Kota Malang berada di urutan pertama yang paling rendah, dan yang paling dalam yaitu di Sumenep yaitu 0,79%,” terangnya.
Baca Juga: Dinas Pertanian Banyuwangi Pastikan Hewan Kurban Bebas Penyakit Menjelang Idul Adha 2025
Dalam seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur, semua mengalami deflasi pada bulan Mei 2025.
Kota Malang menempati posisi deflasi paling rendah dibandingkan kabupaten/kota lain, sedangkan Sumenep mencatat deflasi paling dalam sebesar 0,79%.
Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2025, inflasi Kota Malang mencapai 0,94%.
Baca Juga: Achmad Yusup, SAP Resmi Terpilih Sebagai Direktur Perumdam Among Tirto Kota Batu Periode 2025-2030
Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding inflasi Provinsi Jawa Timur sebesar 0,89%, namun masih lebih rendah dari angka nasional yang sebesar 1,19%.
Secara year on year, inflasi Kota Malang sebesar 1,36%, lebih tinggi dari Jawa Timur yang sebesar 1,20%, tetapi masih berada di bawah angka nasional, yaitu 1,60%.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memberikan apresiasi atas konsistensi BPS Kota Malang dalam menyajikan data dan informasi statistik yang terpercaya dan akurat.
Menurut Wahyu, harga kebutuhan pokok di Kota Malang masih terkendali meskipun terdapat deflasi.
Ia mengingatkan pentingnya terus melakukan monitoring agar inflasi tetap stabil dan terkendali. Wahyu juga menegaskan bahwa deflasi yang terjadi bukan merupakan tren negatif.
"Kan ada beberapa faktor yang membuat deflasi, salah satunya setelah Hari Raya. Tapi kita akan terus monitor dan cek bagaimana bisa menaikkan kembali deflasi ini walaupun secara umum tergolong aman," tutup Wahyu Hidayat. (gha)