Ia menyebutkan bahwa mesin ini mampu memangkas waktu panen secara signifikan. Untuk memanen satu hektare sawah, mesin ini hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.
Sebaliknya, jika masih memakai tenaga manusia, proses yang sama perlu waktu antara dua sampai tiga hari.
“Ini sangat membantu kami dalam proses panen, terutama karena sekarang sulit mencari tenaga kerja, karena anak-anak di sini sekarang sudah jarang yang mau menjadi petani,” jelas Saiful.
Selama ini, petani di lokasi tersebut kerap menyewa mesin combine harvester dari Jawa Tengah dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu sekitar Rp400.000 setiap ton gabah yang dipanen.
Baca Juga: Pendaki Asal Brasil Terperosok di Gunung Rinjani, Proses Evakuasi Penuh Tantangan Dimulai
Kehadiran mesin pemanen padi combine harvester di Kota Malang membuat para petani lebih mudah mengakses alat tersebut tanpa harus menyewa dari lokasi jauh.
Saiful menyatakan rasa syukurnya atas keberadaan mesin ini yang memperingan pekerjaan mereka.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, turut menegaskan bahwa alat combine harvester ini memberikan dampak positif yang signifikan.
Menurut Slamet, alat ini dapat menghemat waktu panen hingga 12 hari jika dibandingkan dengan proses manual.
Penghematan ini tidak hanya dalam hal waktu, tetapi juga efisiensi penggunaan tenaga kerja serta biaya operasional yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan di Kota Malang. (gha)