• Sabtu, 18 April 2026

Seabad Pramoedya Ananta Toer: Perjalanan Hidup dan Fakta-Fakta Pentingnya

Photo Author
Bridgeta Elisa Putri, Wartajatim.co.id
- Senin, 10 Maret 2025 | 12:29 WIB
Seabad Pramoedya Ananta Toer: Perjalanan Hidup dan Fakta-Fakta Pentingnya (Foto: esi.kemdikbud.go.id)
Seabad Pramoedya Ananta Toer: Perjalanan Hidup dan Fakta-Fakta Pentingnya (Foto: esi.kemdikbud.go.id)

WartaJatim.CO.ID - Nama Pramoedya Ananta Toer kembali menjadi sorotan publik seiring peringatan 100 tahun kelahirannya pada 6 Februari 2025.

Penulis yang dikenal dengan karyanya yang kritis terhadap penjajahan dan nilai-nilai kemanusiaan ini meninggalkan warisan literasi yang terus hidup bahkan hampir dua dekade setelah kepergiannya.

Salah satu karyanya, "Bumi Manusia", berhasil menarik lebih dari 1,3 juta penonton ketika diadaptasi menjadi film pada 2019, memperkenalkan pemikiran sang maestro kepada generasi baru Indonesia.

Baca Juga: Milad ke-4 RSU Wajak Husada: Komitmen H. Puguh Wiji Pamungkas untuk Meningkatkan Kualitas Layanan

Jejak Kehidupan Sang Maestro Sastra

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925 sebagai putra seorang guru.

Ayahnya bertugas di Hukum Islam Sekolah (HIS) Rembang dan di sekolah swasta Boedi Oetomo, sementara ibunya adalah anak penghulu di Rembang.

Menariknya, nama aslinya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, namun ia memutuskan menghapus awalan "Mas" karena merasa terlalu bangsawan, dan memilih "Toer" sebagai nama belakangnya.

Perjalanan pendidikan Pramoedya dimulai dari Institut Boedi Oetomo di Blora, dilanjutkan ke sekolah teknik radio di Surabaya.

Meskipun sibuk bekerja di kantor berita Domei, Pram tetap melanjutkan pendidikan di Taman Siswa, mengikuti kursus stenografi, dan bahkan menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta dengan mengambil mata kuliah Filsafat, Sosiologi, dan Sejarah.

Pengalaman Hidup yang Membentuk Karya Sastra

Kehidupan Pramoedya penuh dengan perjuangan dan pengalaman yang kemudian menjadi inspirasi karya-karyanya.

Ia pernah menjadi prajurit resmi TKR pada 1946 dengan gelar Letnan II yang ditempatkan di Cikampek. Namun, perjuangannya tidak berhenti di medan perang.

Pada 1947, Pramoedya ditangkap marinir Belanda dan dipenjarakan di Bukit Duri hingga 1949. Pengalaman ini menginspirasi lahirnya novel berjudul "Perburuan".

Selanjutnya pada 1965, ia kembali dipenjarakan di berbagai tempat termasuk Tangerang, Salemba, dan Cilacap, sebelum akhirnya menjalani sepuluh tahun pengasingan di Pulau Buru.

Masa pengasingan di Pulau Buru justru menjadi periode produktif dalam hidupnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bridgeta Elisa Putri

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X