WartaJatim.CO.ID - Nama Pramoedya Ananta Toer kembali menjadi sorotan publik seiring peringatan 100 tahun kelahirannya pada 6 Februari 2025.
Penulis yang dikenal dengan karyanya yang kritis terhadap penjajahan dan nilai-nilai kemanusiaan ini meninggalkan warisan literasi yang terus hidup bahkan hampir dua dekade setelah kepergiannya.
Salah satu karyanya, "Bumi Manusia", berhasil menarik lebih dari 1,3 juta penonton ketika diadaptasi menjadi film pada 2019, memperkenalkan pemikiran sang maestro kepada generasi baru Indonesia.
Baca Juga: Milad ke-4 RSU Wajak Husada: Komitmen H. Puguh Wiji Pamungkas untuk Meningkatkan Kualitas Layanan
Jejak Kehidupan Sang Maestro Sastra
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925 sebagai putra seorang guru.
Ayahnya bertugas di Hukum Islam Sekolah (HIS) Rembang dan di sekolah swasta Boedi Oetomo, sementara ibunya adalah anak penghulu di Rembang.
Menariknya, nama aslinya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, namun ia memutuskan menghapus awalan "Mas" karena merasa terlalu bangsawan, dan memilih "Toer" sebagai nama belakangnya.
Perjalanan pendidikan Pramoedya dimulai dari Institut Boedi Oetomo di Blora, dilanjutkan ke sekolah teknik radio di Surabaya.
Meskipun sibuk bekerja di kantor berita Domei, Pram tetap melanjutkan pendidikan di Taman Siswa, mengikuti kursus stenografi, dan bahkan menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta dengan mengambil mata kuliah Filsafat, Sosiologi, dan Sejarah.
Pengalaman Hidup yang Membentuk Karya Sastra
Kehidupan Pramoedya penuh dengan perjuangan dan pengalaman yang kemudian menjadi inspirasi karya-karyanya.
Ia pernah menjadi prajurit resmi TKR pada 1946 dengan gelar Letnan II yang ditempatkan di Cikampek. Namun, perjuangannya tidak berhenti di medan perang.
Pada 1947, Pramoedya ditangkap marinir Belanda dan dipenjarakan di Bukit Duri hingga 1949. Pengalaman ini menginspirasi lahirnya novel berjudul "Perburuan".
Selanjutnya pada 1965, ia kembali dipenjarakan di berbagai tempat termasuk Tangerang, Salemba, dan Cilacap, sebelum akhirnya menjalani sepuluh tahun pengasingan di Pulau Buru.
Masa pengasingan di Pulau Buru justru menjadi periode produktif dalam hidupnya.
Artikel Terkait
Mengenang Joko Pinurbo: Penyair Tersohor dari Jagad Sastra Tanah Air
Karya Sastra Chairil Anwar: Jejak Perlawanan dan Eksistensialisme
Sejarah Hari Aksara Internasional dan Perjalanan Literasi Dunia
Jejak Abadi: Tokoh-Tokoh Besar dalam Sejarah Pendidikan
Mengenal Sejarah Candi Jago: Asal-Usul, Nilai Sejarah, dan Keindahan Arsitektur