Konon, salah satu pendirinya adalah cucu dari pengagum berat Titiek Puspa pada era 70-an yang sempat tinggal di Jakarta dan menyimpan koleksi piringan hitam penyanyi legendaris itu. Dari koleksi itulah benih inspirasi ditanam, dan kini berkembang menjadi gerakan seni internasional.
Baca Juga: Pesan Menyentuh Titiek Puspa yang Baru Terungkap Setelah Wafat
Meski Titiek Puspa sendiri belum memberikan komentar resmi, banyak pengamat budaya melihat hal ini sebagai bentuk nyata dari “warisan istana” yang terus hidup dan berkembang lintas generasi, bahkan lintas benua.
Kisah Titiek Puspa adalah mozaik dari sejarah, seni, dan identitas. Dari nama yang diberikan oleh Proklamator Soekarno hingga pengaruhnya yang tak disangka menjalar ke komunitas seni di Eropa seperti Grup Lensois, Titiek Puspa membuktikan bahwa seni adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara lokal dan global.
Kepergiannya pada 10 April 2025 di usia 87 tahun menandai akhir dari sebuah era, namun warisan karyanya akan terus hidup dan menginspirasi lintas generasi.
Penulis: Ummu Kultsum Naviza
(ukn)
Artikel Terkait
Kronologi Meninggalnya Titiek Puspa: Ikon Musik Indonesia Berpulang di Usia 87 Tahun
5 Karya-Karya Legendaris Titiek Puspa yang Tak Terlupakan
Titiek Puspa Pulang ke Pangkuan Ilahi: Keluarga Berbagi Momen Keikhlasan Sang Legenda Musik Indonesia
Curhat Terakhir Titiek Puspa pada Inul Daratista: Kenangan Manis Sebelum Berpulang
Titiek Puspa Meninggal Dunia di Usia 87 Tahun Setelah Jalani Perawatan Intensif