Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, dikenal tidak hanya karena kepemimpinannya yang kuat dalam bidang ekonomi, tetapi juga karena kecintaannya terhadap buku.
Kebiasaan membaca yang telah tertanam sejak kecil ini menjadi salah satu kunci suksesnya sebagai seorang pemimpin.
Di berbagai kesempatan sebagai pembicara, Sri Mulyani sering mengenang masa kecilnya yang dipenuhi dengan buku.
Baca Juga: Sri Mulyani Tegaskan Efisiensi Anggaran Tidak Akan Ganggu Tenaga Honorer dan Beasiswa
Ia menceritakan bagaimana ibunya mewajibkan dia dan saudaranya untuk membawa buku saat pergi ke dokter gigi, sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga kini.
Sri Mulyani percaya bahwa membaca adalah fondasi penting untuk pengembangan diri dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa dengan semakin mudahnya akses terhadap berita, film, dan musik, banyak orang yang memiliki alasan untuk tidak membaca buku.
Kebiasaan membaca ini tidak hanya membentuk karakter dan pemikirannya, tetapi juga mempengaruhi cara dia menjalankan tugasnya sebagai Menteri Keuangan.
Baca Juga: Menjelajahi 8 Cafe Instagramable di Malang: Tempat Makan Keluarga yang Wajib Dikunjungi
Sri Mulyani sering kali menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dari buku untuk membuat keputusan yang strategis dan berbasis data dalam kebijakan ekonomi.
Ia juga berharap agar universitas menjadi tempat di mana mahasiswa tidak hanya menuntut ilmu tetapi juga belajar untuk memberi, sebuah filosofi yang diajarkan oleh orang tuanya.
dikutip dari Instagram @smindrawati "Saat ini dengan semakin mudahnya akses terhadap berita, film, musik, Anda punya banyak alasan untuk tidak baca buku. Itu adalah realita hari ini, kalau kita tidak menanamkan minat membaca dari usia dini, sangat sulit bagi Anda untuk terbiasa memiliki kemampuan membaca nantinya,"
Baca Juga: Apel Pagi Penuh Haru: Iwan Kurniawan Akhiri Masa Tugas Sebagai Pj. Wali Kota Malang
Sri Mulyani mengingat nasihat orang tuanya, "Ndhuk, uripmu ojo ning mikirke kanggo awakmu dewe," yang berarti "Anakku, hidupmu jangan hanya memikirkan diri sendiri."
Nasihat ini membentuk pandangannya untuk selalu memikirkan kepentingan orang lain, baik saat menjadi dosen, menteri, maupun ketika bekerja di Bank Dunia.
Artikel Terkait
CBDK Optimistis Jadi Penggerak Ekonomi Lewat Proyek Strategis di PIK 2
Cukai Minuman Manis: Solusi atau Ancaman bagi Ekonomi?
Pj Bupati Pasuruan Tanam 1.000 Bibit Pohon Sukun untuk Lingkungan dan Ekonomi Warga
Ekonomi Jawa Timur 2025 Diprediksi Meningkat, Konsumsi dan Investasi Jadi Penggerak Utama
Utang Luar Negeri Pemerintah Turun di Triwulan IV 2024: Sinyal Positif bagi Ekonomi Indonesia