Pendekatan Berbeda dari Sri Mulyani
Sementara itu, Sri Mulyani sebelumnya menekankan efisiensi melalui pemangkasan belanja dalam APBN. Hal ini tertuang dalam PMK Nomor 57 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pelaksanaan Efisiensi Belanja, yang menargetkan penghematan pada belanja barang, belanja modal, dan jenis belanja lainnya.
“Kita masih akan perlu memonitor berbagai langkah-langkah efisiensi. Dan dari hati-hati tersebut tentu nanti penyusunan APBN 2026 akan menggunakan evaluasi tahun ini,” ujar Sri Mulyani usai rapat paripurna DPR RI, 20 Mei 2025 lalu.
Dengan begitu, Sri Mulyani lebih menekankan pada pengendalian defisit melalui pemotongan langsung anggaran belanja.
Dua Gaya, Satu Tujuan
Meski berbeda pendekatan, baik Purbaya maupun Sri Mulyani memiliki visi yang sama: menjaga stabilitas fiskal RI.
Baca Juga: Purbaya Pangkas DBH Jakarta Rp15 Triliun, Pramono Anung Legawa dan Siapkan Strategi Efisiensi
Sri Mulyani menahan belanja untuk menekan defisit, sedangkan Purbaya memastikan dana tetap mengalir agar tidak menumpuk dan menimbulkan beban bunga. Dengan arah baru ini, Purbaya membuka babak baru tata kelola fiskal — efisiensi tanpa pemangkasan.
(DP)