• Sabtu, 18 April 2026

Rp200 Triliun Mengalir ke Bank Himbara, Gebrakan Purbaya Disebut Berbeda Jauh dari Sri Mulyani Menurut Ekonom Senior

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Rabu, 8 Oktober 2025 | 14:41 WIB
Menyoroti perbedaan gaya pengelolaan keuangan Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa dengan pendahulunya, Sri Mulyani. (Dok. Kemenkeu)   (Dok. Kemenkeu)
Menyoroti perbedaan gaya pengelolaan keuangan Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa dengan pendahulunya, Sri Mulyani. (Dok. Kemenkeu) (Dok. Kemenkeu)

wartajatim.co.id - Langkah berani Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, langsung memicu sorotan publik. Belum genap sebulan menjabat, ia sudah menyuntikkan dana pemerintah senilai Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank Himpunan Milik Negara (Himbara).

Dana jumbo itu dialirkan ke Bank Mandiri, BRI, BTN, BNI, dan BSI untuk mempercepat perputaran likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Sudah saya setujui tadi pagi. Saya pastikan dana tersebut akan masuk ke sistem perbankan hari ini,” tegas Purbaya di Jakarta, Sabtu (13/9/2025).

Perdebatan Publik: Rezim Ibu vs Bapak Kebijakan cepat Purbaya ini menimbulkan diskusi hangat. Mantan Ketua KPK, Abraham Samad, menilai keputusan itu mengejutkan banyak pihak.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Jejak Karier Purbaya Yudhi Sadewa, Sosok Pengganti Sri Mulyani Jadi Menteri Keuangan Era Prabowo

“Rp200 triliun ini katanya bisa jadi kredit untuk mendanai UMKM dan sebagainya,” ujarnya dalam podcast Speak Up (18/9/2025).

Sementara itu, ekonom senior Yanwar Rizky menyoroti gaya pengelolaan uang negara antara Purbaya dan Sri Mulyani. Ia menyebut istilah “rezim ibu vs rezim bapak”. Menurutnya, gaya Sri Mulyani mencerminkan sikap kehati-hatian seorang ibu.

“Kalau ibu-ibu, biasanya lebih pelit, uang sering ditahan karena realisasi belanja dinilai belum memenuhi tata kelola,” jelas Yanwar.

Berbeda dengan itu, rezim bapak lebih longgar di depan namun tegas di belakang. “Kalau bapak-bapak biasanya kasih dulu, tapi kalau ada masalah, siap diganyang,” tambahnya.

Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Kisah Pilu Sri Mulyani Usai Penjarahan: Kecewa Berat Disamakan dengan Sahroni

Teori Friedman di Balik Gebrakan Purbaya Yanwar menyebut Purbaya menganut teori likuiditas Milton Friedman yang menekankan agar uang tidak dibiarkan mengendap. “Uang itu harus keluar, harus jalan. Itu yang jadi dasar langkah cepat Purbaya,” paparnya.

Langkah tersebut dinilai mencerminkan karakter Purbaya yang berbeda dari Sri Mulyani. Jika pendahulunya dikenal berhati-hati, Purbaya justru memilih mempercepat sirkulasi uang demi menopang pertumbuhan ekonomi, termasuk untuk sektor UMKM.

Dampak dan Ekspektasi Kebijakan ini menuai beragam reaksi. Ada yang menganggap gebrakan Purbaya sebagai upaya progresif menggerakkan ekonomi, sementara sebagian lain khawatir soal kontrol penggunaan dana besar tersebut.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Tak Ada Kenaikan Cukai Rokok 2026, Fokus Berantas Rokok Ilegal dan Benahi Industri Tembakau

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X