WartaJatim.CO.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengambil langkah cepat menghadapi ancaman lonjakan harga bahan pangan saat perayaan Natal dan Tahun Baru.
Melalui gerakan menanam cabai dan bawang merah secara serentak, Pemkot menggerakkan masyarakat, kelompok tani, hingga pelaku urban farming untuk memastikan ketersediaan pasokan sekaligus menjaga stabilitas harga.
Dikutip WartaJatim dari laman Pemerintah Kota Surabaya, Kegiatan tanam serentak cabai dan bawang merah tersebut digelar di lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) Jambangan, Jalan Jambangan Kebon Agung No. 46, Surabaya, pada Rabu (20/8/2025). Agenda ini merupakan tindak lanjut dari kompetisi Urban Farming yang sebelumnya telah dilaksanakan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Antiek Sugiharti, menegaskan bahwa program ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi strategi nyata menjaga pasokan dan menekan inflasi pangan di Surabaya.
"Pagi ini tadi, tim TPID membuat kegiatan tindak lanjut. Jadi, Urban Farming Competition itu adalah gerakan menanam cabai dan bawang merah," kata Antiek.
Pada tahap awal, sebanyak 1.100 bibit cabai ditanam bersama-sama di lahan aset Pemkot Surabaya.
Kegiatan ini melibatkan warga berpenghasilan rendah (MBR) serta anggota TPID. Selain itu, Pemkot juga membagikan sekitar 25.000 bibit cabai kepada masyarakat melalui kecamatan, kelurahan, RW, dan RT untuk ditanam di pekarangan rumah maupun lahan kosong.
"Kita membagikan kepada seluruh masyarakat melalui kecamatan, kelurahan, RW, dan RT sebanyak 25.000 bibit. Bibit-bibit tersebut diharapkan dapat ditanam di pekarangan rumah, lahan kosong, atau di lingkungan sekitar, sehingga setiap keluarga bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan cabai skala kecil,” jelasnya.
Tidak hanya menyasar warga, Pemkot Surabaya juga menyalurkan 6.000 bibit cabai kepada kelompok tani, baik konvensional maupun urban farming.
Kelompok tani konvensional diarahkan untuk menanam di lahan sawah yang luas, sementara kelompok urban farming memanfaatkan lahan terbatas di sekitar permukiman.
“Kelompok tani, baik konvensional maupun urban farming juga sudah mulai melakukan pembibitan dan penanaman secara mandiri sejak beberapa hari sebelumnya. Dengan demikian, kami berharap, tiga bulan ke depan, pada Desember sudah bisa dilakukan panen,” terangnya.