Kehadiran mereka memperkuat nilai inklusivitas yang diusung, memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dan inspiratif.
Tak hanya fokus pada peningkatan kapasitas individu, KolaborAKSI juga menargetkan pertumbuhan ekonomi peserta secara konkret. IFG menargetkan adanya peningkatan pendapatan hingga 20 persen dan perluasan basis pelanggan minimal 15 persen setelah program berakhir.
Baca Juga: Mensesneg Buka Suara soal Dony Oskaria dan Rencana Peleburan Kementerian BUMN ke Danantara
Selain dampak ekonomi langsung, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesetaraan dan inklusivitas dalam dunia usaha.
Melalui semangat “UMKM Naik Kelas, Semua Berdaya,” IFG menegaskan bahwa implementasi prinsip ESG bukan hanya sekadar pemenuhan regulasi, tetapi aksi nyata yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.
IFG berkomitmen menjadikan pemberdayaan sebagai fondasi dalam memperkuat ekosistem usaha inklusif, di mana setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
Baca Juga: Pramono Anung Tegaskan Fasilitas Blok M Hub Akan Diperbaiki, AC Jadi Sorotan Utama Demi Nyaman UMKM
“IFG ingin membuktikan bahwa keberlanjutan ekonomi bisa dimulai dari pemberdayaan lokal yang berdampak nyata,” jelas Denny menambahkan “Dengan melibatkan perempuan dan penyandang disabilitas, kami ingin membangun rantai ekonomi yang tidak hanya produktif, tapi juga berkeadilan.”
Dengan langkah ini, IFG tidak hanya memperkuat posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional, tetapi juga menghadirkan model kolaborasi yang humanis dan berorientasi pada dampak sosial.
Melalui KolaborAKSI, semangat pemberdayaan tumbuh menjadi gerakan bersama sebuah komitmen nyata menuju Indonesia yang lebih inklusif, berdaya, dan berkelanjutan.
(CN)