Baca Juga: Isu Penarikan Dana Massal Nasabah: Cuitan Kekhawatiran Warga X
Karena kesamaan pelafalan dan struktur bahasa dengan Korea, Pemerintah Kota Bau-Bau berinisiatif mengadopsi aksara Hangeul untuk mendokumentasikan bahasa Cia-Cia.
Kini, plang jalan dan papan nama sekolah di wilayah tersebut ditulis dalam dua aksara: Latin dan Hangeul.
Aksara Mandarin menempati posisi sebagai aksara tersulit untuk dipelajari dengan beragam dialek, termasuk Mandarin Tradisional, Mandarin Sederhana, dan Hanyu Pinyin.
Sementara itu, aksara Latin atau alfabet, yang berawal dari bangsa Semit sekitar 2.500 tahun lalu dan kemudian berkembang sebagai aksara Romawi, kini menjadi sistem tulisan yang paling banyak digunakan di dunia dengan 26 huruf.
Tak kalah menarik, aksara Burmese dari Myanmar dinobatkan sebagai aksara terindah dengan penulisannya yang searah jarum jam dan berbentuk lingkaran, terdiri dari 33 konsonan dan 8 vokal.
Baca Juga: Berapa Hari Lagi Puasa 2025: Sidang Isbat Kemenag Tentukan Awal Ramadan
Adapun aksara Thai dari Thailand menyandang gelar aksara terunik, dengan konsonan yang ditulis mendatar dari kiri ke kanan, sementara vokalnya ditulis di atas, bawah, kiri, atau kanan dari konsonan.
Peringatan Hari Aksara Internasional menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat dunia tentang pentingnya literasi sebagai hak asasi manusia, serta mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih melek huruf.
Melalui pengenalan berbagai aksara dunia, diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi terhadap keberagaman budaya dan memperkuat upaya global dalam memberantas buta huruf. (SAZ)
Artikel Terkait
Karen Armstrong, Sang Feminis Irlandia Penulis Buku Tentang Agama!
Review Buku Filosofi Teras: Pemahaman Mendalam tentang Kearifan Hidup
Pawai Budaya Tlogomas 2025: Rangkaian Kegiatan Sejarah dan Budaya yang Seru pada 23 Februari
Dari Da Vinci hingga Mazmur: Jejak Sejarah dalam 5 Buku Paling Berharga
Desa Unik di Malang: Menelusuri Keberagaman Budaya dan Sejarah