WartaJatim.CO.ID - Peringatan Hari Aksara Internasional setiap 8 September mengingatkan tentang perjuangan global melawan buta huruf yang masih dihadapi 350 juta orang di seluruh dunia hingga tahun 1965.
Bermula dari Konferensi Dunia Menteri Pendidikan untuk Pemberantasan Buta Aksara di Teheran, Iran pada September 1965, UNESCO kemudian meresmikan peringatan ini pada tahun 1966, dengan perayaan pertama diselenggarakan pada 8 September 1967.
Sejak ribuan tahun lalu, aksara telah menjadi alat komunikasi vital bagi peradaban manusia, dengan berbagai sistem tulisan unik yang berkembang di seluruh penjuru dunia.
Baca Juga: Cara Lolos Ujian SIM C di Indonesia: Panduan Lengkap & Terbaru
Dari aksara tertua hingga yang termuda, masing-masing memiliki karakteristik dan sejarah yang menarik untuk diketahui.
Aksara Paku dari Mesopotamia kuno menjadi titik awal perkembangan sistem tulisan dunia.
Berasal dari lembah Sungai Efrat dan Tigris (kini Irak) sekitar 3.000 tahun lalu, tulisan berbentuk paku yang ditorehkan pada lempengan tanah liat ini dikembangkan oleh bangsa Sumeria.
Nama "aksara paku" sendiri berasal dari bahasa Latin "cuneus" (baji/paku) dan "forma" (bentuk), yang kemudian menjadi cikal bakal seluruh jenis aksara di dunia.
Baca Juga: Nikmati Kelezatan Asian Treasure di Rayz UMM Hotel Malang Selama Ramadan
Di sisi lain benua, Hangeul dari Korea justru menyandang gelar sebagai aksara termuda.
Diciptakan oleh Raja Sejong pada 1443 selama masa Dinasti Joseon, aksara ini terdiri dari 24 huruf—14 konsonan dan 10 vokal.
Yang menarik, aksara Hangeul tidak hanya digunakan di Semenanjung Korea, tetapi juga oleh suku Cia-Cia di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Indonesia.
Fenomena adopsi Hangeul oleh suku Cia-Cia bermula pada awal 2000-an.
Meski memiliki bahasa penutur Buton Selatan, suku ini tidak memiliki sistem penulisan untuk mengabadikan bahasa mereka.