• Sabtu, 18 April 2026

Dari Padang ke Dunia: Kisah UMKM Cokelat Binaan BRI yang Sempat 'Mati Suri' tapi Kini Diperebutkan Buyer Internasional

Photo Author
Arvendo Mahardika, Wartajatim.co.id
- Senin, 28 Juli 2025 | 17:52 WIB
Priscilla Raisa Partana berhasil membawa cokelat lokal Sumbar ke panggung internasional lewat inovasi dan ketekunan. (Foto: Dok. BRI)
Priscilla Raisa Partana berhasil membawa cokelat lokal Sumbar ke panggung internasional lewat inovasi dan ketekunan. (Foto: Dok. BRI)

AboutMalang.com - UMKM lokal asal Indonesia kembali membuktikan daya saingnya di panggung global. Produk-produk berkualitas hasil inovasi pelaku usaha kecil menengah Tanah Air semakin dilirik pasar internasional.

Hal ini tergambar dalam ajang FHA Food & Beverage 2025 di Singapura yang berlangsung pada tanggal 8 hingga 11 April 2025.

Pameran tersebut menjadi ajang penting untuk memperkenalkan produk Indonesia ke kancah dunia.

Baca Juga: Dugaan Perundungan Siswa SMAN 6 Garut, Gubernur Jabar Nonaktifkan Kepsek Demi Transparansi Investigasi

Salah satu UMKM yang mencuri perhatian di ajang itu adalah L'île Chocolate, pelaku usaha binaan BRI asal Padang, Sumatera Barat.

Produk cokelat milik mereka berhasil menarik minat sejumlah klien mancanegara, menunjukkan bahwa produk lokal juga memiliki kualitas dan potensi untuk bersaing di level global.

Pemilik usaha, Priscilla Raisa Partana, menyebut bahwa keikutsertaannya di ajang tersebut membuka banyak peluang baru untuk memperluas jangkauan pasar usahanya.

Sebagai informasi, L'île Chocolate berada di bawah PT Sumatra Coklat dan mengusung pendekatan tree-to-bar, yaitu mengelola produksi kakao dari hulu hingga hilir secara mandiri di Sumatera Barat.

Baca Juga: Coach Justin Soroti Ketidakadilan Round 4: “Main di Saudi? AFC Gak Masuk Akal!”

Seluruh proses dilakukan secara lokal, mulai dari pasokan biji kakao hingga pengemasan, serta melibatkan petani-petani lokal sebagai mitra utama.

“Tren craft chocolate di Indonesia sedang mulai berkembang. Rasanya seperti momen yang tepat. Kami pun mulai mengolah kakao varietas BL50, klon lokal yang ditemukan secara tidak sengaja oleh petani setempat. Klon ini sangat cocok dengan kontur tanah dan iklim Sumatera Barat. Hasil produksinya pun bisa mencapai 2–3 ton per pohon, jauh lebih tinggi dibanding klon lainnya yang hanya sekitar 500 kg,” tutur Priscilla.

Namun, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Priscilla mengaku sempat hampir menghentikan usahanya saat pandemi COVID-19 melanda.

Ia kehilangan hampir seluruh buyer internasional, yang sebelumnya sudah mulai melakukan pembelian dari London dan beberapa wilayah di Inggris.

Baca Juga: Beda Gaya Ricis dan Teuku Ryan Rayakan Ultah Moana: Dari Pesta Rp1 Miliar hingga Sederhana tapi Mengharukan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Arvendo Mahardika

Sumber: BRI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

IHSG Diprediksi Sideways, Waspadai Tekanan Global

Kamis, 16 April 2026 | 10:06 WIB

Harga Emas Antam Anjlok, Buyback Tertekan Tajam

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:02 WIB
X