Ali menyatakan, “Kita bicara tentang kesiapsiagaan, koordinasi, dan ketangguhan komunitas.”
Nilai kearifan lokal seperti gotong royong, rasa kebersamaan (sesrawungan), dan ritual adat tradisional Indonesia diapresiasi sebagai bagian penting dalam menguatkan sistem mitigasi bencana modern.
Ali menerangkan, nilai-nilai tersebut dapat dijadikan landasan dalam menyusun sistem mitigasi yang lebih adaptif dan berakar kuat pada budaya masyarakat.
Wawali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan pelatihan ini sebagai titik awal dalam membentuk Kota Malang yang lebih siap dan berdaya dalam menghadapi bencana.
Ia menambahkan, “Mari kita jadikan pemuda sebagai ujung tombak perubahan, bukan hanya di ranah sosial, tetapi juga dalam sistem penanggulangan risiko bencana yang lebih terstruktur, terlatih, dan kolaboratif.”
Sebagai pengingat, Ali menyampaikan bahwa bencana bisa datang kapan saja tanpa peringatan sebelumnya.
Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun kesiapsiagaan melalui ilmu pengetahuan dan kerja sama yang solid.
“Semoga pelatihan ini berjalan lancar, membawa manfaat nyata, dan mampu menumbuhkan kesadaran baru di masyarakat tentang pentingnya budaya siaga bencana yang berbasis kearifan lokal,” pungkas Ali. (gha)
Artikel Terkait
Wahyu – Ali Ditetapkan Wali dan Wakil Wali Kota Malang
Wakil Wali Kota Malang Dorong Penguatan Koperasi dan UMKM untuk Ekonomi Mandiri dan Berkelanjutan di Kota Malang
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas dan Siap Ekspor Melalui Malang City Expo 2025
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin Buka Konfercab XXII IPNU-IPPNU di Unisma, Dorong Kader Muda Hadapi Bonus Demografi
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin Dukung Sepak Bola Porprov Jatim 2025 dan Optimalkan Ekonomi UMKM