“Kami tidak ingin petani kembali bergantung pada tengkulak. Koperasi hadir untuk melindungi dan memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok,” jelas Zainul.
Zainul menuturkan bahwa dari total lahan Perhutani seluas 479 hektar di desa, sekitar 104 hektar sudah diolah untuk budidaya kopi sejak 2016.
Produksi kopi Desa Ketapanrame saat ini mencapai lebih dari 50 ton tiap tahun dengan sekitar 280 warga yang bergantung penghasilan dari sektor kopi.
Terdapat tiga paguyuban aktif di desa, yaitu Bontugu, Dlundung, dan Bendil, yang giat berinovasi dan mulai menarik perhatian wisatawan ke desa tersebut.
Baca Juga: Jokowi Bongkar Kenangan Kuliah dan Bela Dosen Pembimbing yang Dipolisikan: “Kasmujo Itu Dosen Saya!”
Dengan sinergi yang terus diperkuat oleh pemerintah dan komunitas, kopi Ketapanrame berpotensi menjadi ikon andalan Kabupaten Mojokerto.
Pembukaan lahan Bendil tidak hanya memperluas area pertanian, tetapi juga membuka peluang wisata pertanian yang terintegrasi dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Dukungan kebijakan pemerintah daerah dan kolaborasi komunitas diyakini akan memperkuat Ketapanrame sebagai pusat kopi dan ekowisata berbasis masyarakat. (gha)
Artikel Terkait
Pemkab Mojokerto Salurkan Bantuan Sosial Atensi YAPI untuk 648 Anak Yatim Piatu Demi Kesejahteraan dan Masa Depan Lebih Baik
Pemkab Mojokerto Salurkan Bantuan Sosial Atensi YAPI untuk 648 Anak Yatim Piatu Demi Kesejahteraan Mereka
Pemkab Mojokerto Luncurkan 120 Koperasi Desa Merah Putih dan Aplikasi Digital Percepat Kemandirian Ekonomi Desa
Pemkab Mojokerto Tingkatkan Kewaspadaan Covid-19 Lewat Rapat Koordinasi Dipimpin Wakil Bupati
Pemkab Mojokerto Salurkan Dana Rp 32,12 Miliar untuk Pembangunan Infrastruktur di 67 Desa Tahun 2025