• Sabtu, 18 April 2026

Setelah Keluhan Petani Viral, Menteri Amran Ungkap Celah Permainan Mafia dalam Penyaluran Gabah ke BULOG

Photo Author
Bridgeta Elisa Putri, Wartajatim.co.id
- Senin, 21 April 2025 | 12:30 WIB
Pengamat Pertanian AEPI, Khudori (kiri) dan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman (kanan). (YouTube.com / Q&A METRO TV)
Pengamat Pertanian AEPI, Khudori (kiri) dan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman (kanan). (YouTube.com / Q&A METRO TV)

WartaJatim.CO.ID - Keluhan petani Kalimantan Selatan (Kalsel) terkait harga gabah yang rendah dan kesulitan akses penjualan ke Badan Urusan Logistik (BULOG) kini mendapat sorotan dari Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.

Para petani di daerah tersebut terpaksa menjual gabah seharga Rp5.000 per kilogram, jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.

"Tanggal 18 Maret 2025 kemarin, Bapak (Amran) ke Tanah Laut, ke Kalsel (Kalimantan Selatan)?" tanya Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) kepada Amran dalam program televisi Q&A METRO TV pada Senin, 21 April 2025.

"Dan menemukan ada keluhan dari petani yang kesulitan untuk berhubungan dengan BULOG (Badan Urusan Logistik) untuk menjual gabahnya ke BULOG."

Baca Juga: Viral Keluhan Petani Lampung: Harga Gabah Anjlok di Bawah HPP Meski Padi Berkualitas A1

Permasalahan harga gabah yang rendah ini telah menjadi isu serius yang dihadapi petani di Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir.

Mereka mengalami kesulitan mengakses BULOG untuk menjual hasil panen mereka dengan harga yang lebih layak sesuai HPP pemerintah.

Kondisi ini mendorong Menteri Pertanian Amran Sulaiman turun langsung ke lapangan untuk mendengar keluhan para petani.

Menanggapi kritik dari Khudori yang mempertanyakan keterlibatan Kementerian Pertanian dalam urusan BULOG yang seharusnya bukan di bawah otoritasnya, Amran memberikan penjelasan.

Baca Juga: Mahfud MD: Ijazah Jokowi Dipersoalkan, Tapi Kebijakan Negara Tak Bisa Dibatalkan Begitu Saja

Ia menyatakan bahwa tindakannya merupakan bentuk implementasi dari sistem kolaborasi yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto.

"Visi presiden kita (Prabowo), kita dibawa kolaborasi. Sukses tidak bisa sendirian, harus kolaborasi semua pihak," terangnya.

Menurut Amran, meskipun produksi beras dan stok beras nasional sedang tinggi, masih terdapat oknum mafia pertanian yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.

"Beras produksi tinggi, naik 52 persen. Itu bukan kata saya, kata BPS (Badan Pusat Statistik). Stoknya, hari ini 2,2 juta ton. Ini mungkin tertinggi," sebut Amran.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bridgeta Elisa Putri

Sumber: Youtube Metro TV

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X