• Sabtu, 18 April 2026

Dedi Mulyadi Larang Buku Kenangan Sekolah, Usulkan Format Digital yang Lebih Murah dan Efisien

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Kamis, 5 Juni 2025 | 10:25 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (YouTube.com / KDM Channel)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (YouTube.com / KDM Channel)

WartaJatim.CO.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan publik setelah menyampaikan kritik tajam terhadap kebiasaan sekolah dalam menerbitkan buku kenangan atau buku tahunan bagi siswa yang lulus.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya tidak esensial, tetapi juga cenderung membebani ekonomi keluarga, terutama dari kalangan menengah ke bawah.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial dan wawancara media daring, Dedi menyoroti bahwa biaya pembuatan buku kenangan sekolah bisa mencapai Rp150.000 hingga Rp450.000 per siswa, tergantung pada kualitas cetak dan tempat pemotretan yang digunakan.

Ia menilai kegiatan ini lebih menekankan pada aspek estetika dan gengsi daripada nilai pendidikan itu sendiri.

“Orang tua dipaksa bayar mahal hanya untuk buku yang isinya foto-foto dan kadang gaya-gayaan. Tidak ada korelasinya dengan pembentukan karakter atau peningkatan intelektual siswa,” ujar Dedi.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Apresiasi Siswa SMA Yadika 8 Bekasi: Aksi Bersih Sungai Lebih Penting dari Polemik Wisuda

Dedi mencontohkan pengalaman pribadinya dalam mendidik anak-anak. Ia menyimpan kenangan sekolah anak bungsunya dalam bentuk arsip digital yang mudah diakses dan tidak membutuhkan biaya cetak yang besar.

Menurutnya, format digital lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan lebih ramah lingkungan.

“Saya simpan semua foto dan kenangan anak saya di hard drive. Lebih aman, bisa dibuka kapan saja, dan gak bikin orang tua pontang-panting cari uang,” tambahnya dalam video yang ia unggah di akun Instagram @dedimulyadi71.

Selain buku kenangan, Dedi juga mengkritisi praktik wisuda untuk jenjang pendidikan dasar seperti TK, SD, dan SMP.

Baca Juga: Ramai Siswa Nakal Dikirim ke TNI, Pengamat Nilai Kebijakan Dedi Mulyadi Belum Tegas

Ia menegaskan bahwa wisuda sebaiknya hanya dilakukan di tingkat pendidikan tinggi seperti sarjana dan diploma.

Kegiatan wisuda di sekolah dasar, menurutnya, hanya memicu budaya konsumtif tanpa makna pendidikan yang kuat.

Sebagai alternatif, Dedi mengusulkan agar sekolah menyelenggarakan acara pelepasan siswa secara sederhana di lingkungan sekolah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bridgeta Elisa Putri

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X