WartaJatim.CO.ID - Oleh Mohamad Sinal - Konflik antara Israel dan Gaza (Palestina) serta ketegangan antara Israel dan Iran bukan sekadar roket dan rudal yang ditembakkan dan dibalas. Bukan pula soal siapa menyerang lebih dulu. Namun, sebuah panggung besar yang memperlihatkan bagaimana konflik itu terjadi.
Hal tersebut ditengarai: diciptakan, dipelihara, dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Bukan hanya di tingkat regional, tapi di tingkat global. Ada kekuatan besar di balik semua itu.
Di balik semua narasi yang didengungkan di media internasional, terdapat skema politik yang lebih dalam.
Siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dibutuhkan. Siapa yang dikorbankan, dan siapa yang bertepuk tangan.
Baca Juga: Pecahnya Konflik Iran-Israel, KBRI Tehran Terbitkan 7 Imbauan Penting untuk WNI di Iran
Gaza: Penjara Terbuka yang Dipelihara
Serangan Israel ke Gaza sering kali diklaim sebagai respon atas roket yang diluncurkan Hamas.
Namun, yang jarang dibicarakan adalah bagaimana Gaza telah menjadi penjara terbuka. lebih dari dua juta manusia yang hidup dalam blokade ekonomi dan sosial yang ketat.
Israel mengontrol hampir seluruh akses masuk dan keluar Gaza. Hal tersebut dilakukan melalui darat, laut, maupun udara. Blokade yang telah berlangsung lama ini, menjadikan Gaza sebuah wilayah yang hidup dalam krisis kemanusiaan secara permanen.
Dalam narasi Israel, Hamas selalu ditempatkan sebagai ancaman yang harus dihancurkan. Namun jika ditelaah lebih dalam, Israel secara strategis memelihara kondisi ini agar konflik tetap "hidup". Tujuannya adalah sebagai bentuk justifikasi atas kebijakan keamanan nasional yang represif.
Baca Juga: Trump Sindir Iran Usai Serangan ke Qatar, Korut Marah Besar! Putin Beri Sinyal Bahaya Perang Dunia 3
Israel membutuhkan musuh di Gaza. Tujuan utamanya agar dapat memperkuat militer. Tanpa musuh nyata, alasan untuk memperkuat militer dan memperluas permukiman di wilayah pendudukan akan kehilangan legitimasi.
Di sisi lain, Hamas juga memainkan peran strategis. Mereka mengandalkan perlawanan bersenjata sebagai sumber legitimasi politik dan sosial di Gaza. Dengan demikian, perlawanan terhadap Israel menjadi modal kekuasaan.
Dalam siklus ini, terdapat kepentingan dari kedua belah pihak. Di antaranya, kedua belah pihak tidak benar-benar ingin damai total. Perdamaian justru dapat membahayakan posisi politik mereka masing-masing.
Iran: Musuh Jarak Jauh, Dekat di Hati
Iran dan Israel memang terpisah secara geografis. Namun, keduanya selalu berdekatan dalam retorika politik.