• Sabtu, 18 April 2026

Komdigi Panggil TikTok dan Meta, Soroti Disinformasi Pemicu Ricuh Demo DPR

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 13:53 WIB
Foto ilustrasi ikon sosial media yang banyak digunakan.  (Unsplash/Mariia Shalabieva)
Foto ilustrasi ikon sosial media yang banyak digunakan. (Unsplash/Mariia Shalabieva)

WartaJatim.CO.ID - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan memanggil pengelola platform media sosial TikTok dan Meta terkait kericuhan dalam demonstrasi 25 Agustus 2025 di depan gedung DPR RI. Pemerintah menilai provokasi melalui konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) di media sosial turut memperkeruh situasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Angga Raka Prabowo, menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan Head TikTok Asia Pasifik, Helena, serta TikTok Indonesia dan Meta Indonesia.

“Saya sudah hubungi Head TikTok Asia Pasifik, Helena, saya minta mereka ke Jakarta. Kita akan bercerita tentang fenomena ini, dan dengan Meta Indonesia juga kami sudah komunikasi,” ujar Angga di kantor PCO, Jakarta Pusat, Selasa (26/8/2025).

Baca Juga: Komdigi Bentuk Tim Khusus untuk Perkuat Program Satu Data Indonesia

Sementara untuk platform X atau Twitter, Angga mengaku belum bisa menghubungi karena tidak memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Menurutnya, penyebaran DFK dapat merusak sendi demokrasi di Indonesia.

“Temen-temen yang tadinya mau menyampaikan aspirasi, uneg-uneg, akhirnya bias ketika gerakan itu di-engineering oleh hal-hal yang DFK tadi,” katanya.

Angga menegaskan bahwa langkah take down konten bermasalah bukan bentuk pembungkaman, melainkan menjaga agar aspirasi tetap tersampaikan tanpa dipengaruhi informasi palsu.

Baca Juga: Oknum Pemblokir Situs Judi Online di Komdigi Ternyata Tak Lulus Seleksi, Tapi Tetap Dipekerjakan

“Take down dalam hal ini tolong digarisbawahi, bukan kita mau membungkam atau menghalangi kebebasan berekspresi,” jelasnya. Pemerintah mendorong agar platform media sosial memperkuat sistem moderasi untuk segera menindak konten yang mengandung disinformasi.

“Kita nggak mau demokrasi kita dicederai dengan hal-hal yang palsu. Misal dibilang ada bakar-bakar di sini padahal nggak ada, mungkin gerakan di tahun kapan, dibikin, terus dinariskan,” tandasnya.

(HCY)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: Promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X