WartaJatim.CO.ID – Gagasan untuk menanamkan kemampuan mengawasi diri sendiri, atau self policing, sejak jenjang pendidikan dasar kian menguat. Konsep ini dinilai krusial untuk membekali anak-anak dengan kemampuan mengendalikan emosi dan mencegah perilaku negatif, termasuk tindak kekerasan.
Usulan ini disampaikan secara lugas oleh Ketua Perkumpulan Doktor Ilmu Kepolisian Indonesia (DIKPI), Kombes Pol Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si. Menurutnya, pembelajaran self policing sejak dini adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter.
Hal tersebut diungkapkan Dedy dalam kapasitasnya sebagai narasumber pada sebuah forum diskusi daring yang diinisiasi oleh Jaringan Pemred Promedia (JPP), Selasa (11/11/2025).
Forum yang mengangkat tema “Knowledge-Based Policing: Ilmu Kepolisian dalam Kehidupan Sehari-hari” itu mengupas penerapan nilai-nilai kepolisian dalam kehidupan sosial.
Dedy menjelaskan bahwa self policing bukanlah konsep yang eksklusif bagi aparat penegak hukum. Sebaliknya, ini adalah kemampuan esensial yang harus dimiliki setiap individu dalam masyarakat, termasuk siswa di lingkungan sekolah.
"Kemampuan individu untuk mengontrol emosi, perilaku negatif, atau melakukan kekerasan adalah bagian dari self policing," ujar Dedy. Ia mencontohkan bahwa tindakan sederhana seperti menahan diri saat marah agar tidak memukul, merupakan bentuk 'tindakan kepolisian' terhadap diri sendiri.
Pria berusia 49 tahun ini menegaskan bahwa kemampuan mengelola stres dan amarah adalah bentuk dasar dari pengawasan diri.
"Bisa mengendalikan amarah agar tidak melakukan kekerasan, mengatur stres agar tidak berdampak kepada orang lain, itu juga bagian dari policing,” jelasnya.
Baca Juga: Wali Kota Eri Cahyadi Tegaskan Komitmen Pemkot Surabaya Cegah Bullying di Sekolah dengan Penguatan Nilai Toleransi dan Persatuan
Lebih lanjut, Ketua DIKPI itu menyoroti fenomena sosial yang terjadi di lingkungan pendidikan, seperti insiden di SMAN 72 Kelapa Gading. Ia menduga insiden tersebut dipicu oleh akumulasi stres, salah satunya akibat perundungan (bullying), yang berujung pada tindakan berisiko.
"Kadang-kadang orang stres itu (karena) di-bully terus, diledakin itu yang sekolah di sana itu kan,” ungkap Dedy.
Menurutnya, lingkaran setan ini dapat diminimalkan jika anak-anak sudah dibekali konsep pertahanan diri secara mental sejak awal.
"Kalau sejak playgroup, TK, SD sudah diajarkan bagaimana mengamankan dirinya sendiri, lama-lama mereka akan paham arti penting mengendalikan diri," tambahnya.
Baca Juga: Bullying Mahasiswa UNUD Jadi Sorotan Nasional, Pakar Sebut ‘Luka Psikologis Tak Terlihat’ Lebih Bahaya
Melalui forum tersebut, Dedy berharap self policing dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan karakter. Tujuannya jelas, yakni membangun generasi masa depan Indonesia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran hukum dan empati sosial yang kuat.
(ASR)