WartaJatim.CO.ID - R.F. Kuang kembali mengguncang dunia sastra dengan novel terbarunya, Yellowface, yang menyoroti isu apropriasi budaya, ras, dan etika dalam industri penerbitan.
Mengisahkan perjalanan seorang penulis yang mencuri karya rekannya demi ketenaran, novel ini tidak hanya menyajikan cerita penuh ketegangan tetapi juga membuka diskusi luas tentang siapa yang berhak menceritakan kisah tertentu.
Dengan sudut pandang narasi yang tajam dan gaya bercerita satir, Yellowface mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam praktik di balik industri buku yang sering kali luput dari sorotan.
Yellowface mengisahkan tentang June Hayward, seorang penulis kulit putih yang frustrasi karena kariernya tak kunjung bersinar.
Baca Juga: Novel Cantik Itu Luka: Ketika Sejarah Berbicara Melalui Kisah Perempuan
Ketika sahabat sekaligus pesaingnya, Athena Liu—seorang penulis keturunan Asia-Amerika—meninggal mendadak, June mengambil alih manuskrip terakhir Athena dan menerbitkannya dengan nama samaran.
Keberhasilan novel ini membuatnya terkenal, namun lambat laun ia harus menghadapi konsekuensi dari kebohongannya.
Kritik dari komunitas sastra mulai bermunculan, mempertanyakan otentisitas dan legitimasi June dalam menulis cerita yang bukan berasal dari pengalamannya sendiri.
Melalui novel ini, Kuang mengungkap realitas industri penerbitan yang sering mengeksploitasi identitas etnis demi keuntungan. Ia menunjukkan bagaimana keragaman kerap dijadikan alat pemasaran daripada benar-benar dirayakan.
Baca Juga: R.F. Kuang Hadirkan Perjalanan Magis dalam Novel Katabasis
Novel ini juga menggambarkan bagaimana sistem industri penerbitan bisa bersikap selektif terhadap penulis dari latar belakang minoritas.
Dengan semakin populernya topik keberagaman dalam dunia literasi, banyak rumah penerbitan yang menggunakan narasi ini sebagai strategi bisnis, bukan sebagai upaya tulus dalam menciptakan representasi yang lebih baik.
Kuang menggunakan sudut pandang orang pertama untuk menempatkan pembaca langsung ke dalam pikiran June yang manipulatif dan penuh pembenaran diri.
Narasi yang tidak dapat diandalkan ini menambah dimensi psikologis yang membuat pembaca terus bertanya-tanya tentang batas antara ambisi dan penipuan.
Artikel Terkait
Prekuel Hunger Games Terbaru: Tragedi dan Harapan di Sunrise on the Reaping
Dari Haymitch ke Katniss: Mengingat Hunger Games Melalui Sunrise on the Reaping
Kritik Sosial dalam Novel Gadis Minimarket Karya Sayaka Murata
Review Buku Animal Farm! Saat Hewan Mengungkap Kebenaran Politik
R.F. Kuang Hadirkan Perjalanan Magis dalam Novel "Katabasis"
Novel Cantik Itu Luka: Ketika Sejarah Berbicara Melalui Kisah Perempuan