wartajatim.CO.ID – Belum genap sebulan menjabat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung menjadi sorotan publik dengan sederet kebijakan yang dinilai berani.
Sosoknya, yang dikenal blak-blakan hingga dijuluki “koboi”, langsung menggebrak dengan target pertumbuhan ekonomi ambisius, suntikan dana jumbo, hingga ancaman bagi kementerian yang lamban menyerap anggaran.
Salah satu kebijakan besar yang menjadi perhatian adalah pemindahan dana kas negara senilai Rp200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito on call dengan tujuan menjaga likuiditas perbankan, sehingga mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil.
“Dana Rp200 triliun masuk ke sistem perbankan hari ini… pasti pelan-pelan akan dikredit sehingga ekonominya bisa bergerak,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, 12 September 2025.
Ia menegaskan, kebijakan ini tidak termasuk perubahan anggaran. “Ini hanya uang kita dipindahkan saja. Enggak ada yang salah,” tambahnya di Istana Negara pada 16 September 2025.
Selain itu, Purbaya juga menegaskan tekadnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke angka 6 persen, bahkan lebih. Menurutnya, kunci dari pencapaian ini terletak pada pengelolaan permintaan domestik.
Baca Juga: Usulan Said Abdullah Disetujui, Purbaya Tambahkan Minyak Goreng 2 Liter di Bansos Pangan Pemerintah
“Selama kita mampu me-manage domestik demand dengan baik, dengan kebijakan fiskal yang tepat, kita bisa tumbuh di atas 6–6,5 persen,” katanya dalam forum Great Lecture Institute, 11 September 2025.
Tak berhenti di situ, bendahara negara ini juga menyoroti kinerja kementerian/lembaga dalam penyerapan anggaran. Purbaya menegaskan, ia siap menarik kembali dana kementerian yang tidak mampu membelanjakan anggarannya hingga akhir tahun.
“Kita akan kasih waktu sampai akhir Oktober. Kalau mereka berpikir kita nggak bisa belanja sampai akhir tahun, kita ambil uangnya,” ujarnya.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan keseriusan Purbaya dalam mengawal fiskal negara, sembari memastikan roda ekonomi bergerak optimal.
Dengan gaya komunikasinya yang tegas dan lugas, publik kini menunggu bagaimana gebrakan “koboi” baru bendahara negara ini akan berdampak pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.