• Sabtu, 18 April 2026

Serangan DDoS Terbesar dalam Sejarah! 37,4 Terabyte Data Menghantam dalam 45 Detik, Target Hampir Luluh

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Selasa, 8 Juli 2025 | 14:18 WIB
Foto ilustrasi - Cloudflare berhasil menggagalkan serangan DDoS terbesar sepanjang masa.  (freepik.com)
Foto ilustrasi - Cloudflare berhasil menggagalkan serangan DDoS terbesar sepanjang masa. (freepik.com)

WartaJatim.CO.ID – Dunia siber kembali dikejutkan oleh insiden keamanan digital berskala luar biasa. Sebuah serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang diklaim sebagai yang terbesar dalam sejarah berhasil digagalkan oleh perusahaan keamanan siber Cloudflare. Serangan itu dilancarkan dengan kekuatan masif hingga mencapai 7,3 terabit per detik (Tbps), dan menghasilkan total lalu lintas data sebesar 37,4 terabyte hanya dalam waktu 45 detik.

Menurut Cloudflare, kecepatan dan intensitas pengiriman data inilah yang membuat serangan tersebut mencengangkan. Jika dibandingkan, volume data ini setara dengan mengirim 9.000 film berkualitas HD dalam waktu kurang dari satu menit.

“Total jumlah data yang dikirim ke target adalah 37,4 terabyte, yang mungkin tidak terlihat luar biasa pada pandangan pertama,” tulis Cloudflare dalam blog resminya, dikutip Minggu, 22 Juni 2025. “Yang membuat serangan ini mencengangkan adalah kecepatan dan intensitas pengiriman data.”

Baca Juga: Hacker Asal Lumajang yang Meretas Website Pemkab Malang Berhasil Ditangkap

Serangan ini menargetkan satu alamat IP spesifik yang tidak disebutkan identitasnya. Para pelaku menggunakan teknik UDP flood sebagai vektor utama. Protokol User Datagram Protocol (UDP) kerap dimanfaatkan dalam aplikasi real-time seperti game online, video streaming, dan panggilan virtual karena tidak memerlukan proses verifikasi dua arah.

Namun, keunggulan inilah yang justru dieksploitasi pelaku. Dengan tidak adanya proses handshake seperti pada TCP, data bisa dikirim secara simultan dan masif, menyebabkan sistem target kewalahan menerima arus trafik.

Selain UDP flood, pelaku juga menerapkan serangan refleksi, yakni teknik di mana pelaku memalsukan alamat IP korban untuk kemudian mengirim permintaan ke server publik seperti NTP (Network Time Protocol), QOTD (Quote of the Day), atau Echo. Server-server ini akan merespons ke IP korban, menyebabkan korban menerima banjir data yang tidak pernah dimintanya.

Baca Juga: ChatGPT Down! Cloudflare Bermasalah, Produktivitas Menurun, Ada Apa dengan OpenAI?

Meski serangan tergolong ekstrem, Cloudflare memastikan bahwa tidak ada kerusakan signifikan yang terjadi. Sistem mitigasi mereka berhasil mendeteksi dan menyaring seluruh arus trafik berbahaya dalam waktu nyata.

Serangan ini menjadi pengingat betapa pentingnya sistem pertahanan siber yang kuat di tengah meningkatnya kompleksitas serangan digital. Cloudflare pun menyatakan akan terus meningkatkan sistem deteksi dini mereka agar kejadian serupa tidak berdampak pada infrastruktur internet global.

(HCY)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: Promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diplomasi Panas AS-Iran: Tenggat Serangan Ditunda

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:02 WIB
X