• Sabtu, 18 April 2026

Momentum Panen Raya Padi di Lumajang: Tantangan dan Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Photo Author
Ghany Ulyasalim, Wartajatim.co.id
- Selasa, 22 April 2025 | 11:44 WIB
Meningkatnya Produksi Padi di Lumajang: Tantangan dan Harapan Ketahanan Pangan (Foto: portalberita.lumajangkab.go.id)
Meningkatnya Produksi Padi di Lumajang: Tantangan dan Harapan Ketahanan Pangan (Foto: portalberita.lumajangkab.go.id)

WartaJatim.CO.ID - Momentum panen raya padi yang berlangsung dari Maret hingga April 2025 menjadi pengingat pentingnya keberlanjutan produksi pangan di daerah.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang mencatat bahwa prediksi produksi padi bulan ini mencapai 55.135 ton.

Dikutip WartaJatim dari laman Pemerintah Kab Lumajang, Namun, perhatian serius harus diberikan pada tren alih fungsi lahan pertanian padi ke komoditas lain yang semakin meningkat.

Baca Juga: Harga Gabah Anjlok, Petani Kalsel Mengeluh: Pengamat Soroti Peran Bulog dan Kementan

Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Lumajang, M. Arif Budiman, menjelaskan bahwa panen raya pada bulan April ini mengalami peningkatan luas tanam hingga 9.828 hektare. Peningkatan ini terjadi setelah pada bulan Maret tercatat seluas 8.337 hektare.

Keserempakan masa tanam petani sejak awal tahun menjadi faktor pendorong utama peningkatan tersebut.

“Mayoritas petani menanam di awal Januari, jadi masa panennya sekitar April. Ada juga yang lebih awal. Keserempakan ini bagus karena memudahkan perencanaan panen dan distribusi,” ujar Arif saat dikonfirmasi pada Selasa (22/4/2025).

Baca Juga: Gibran Ingatkan Puncak Bonus Demografi Indonesia, Sebut Peluang Penentu Masa Depan Bangsa

Meskipun demikian, Arif tidak menampik adanya tantangan yang dihadapi, yaitu berkurangnya minat petani untuk menanam padi. Fluktuasi harga gabah yang belum sepenuhnya stabil menjadi penyebab utama dari fenomena ini.

Walaupun pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), banyak petani yang memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak karena keterbatasan serapan dari Bulog.

Fenomena peralihan petani dari tanaman padi ke komoditas lain seperti jagung, tebu, dan hortikultura semakin terlihat.

Baca Juga: Kampung Lobster Banyuwangi: Pusat Budidaya dan Kuliner Lobster yang Sukses Ekspor ke Tiongkok dan Taiwan

Petani menilai bahwa hasil dan perawatan tanaman selain padi lebih menjanjikan secara ekonomi. Hal ini berkontribusi terhadap penurunan luas tanam padi secara bertahap.

“Seperti tebu, perawatannya lebih mudah dan hasilnya lebih pasti. Itu sebabnya petani makin banyak yang beralih, dan produksi padi pun menurun,” imbuh Arif.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang. Apabila tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap sistem ketahanan pangan daerah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bridgeta Elisa Putri

Sumber: lumajangkab.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X