Menurutnya, pemuda lebih mahir menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan pesan damai serta melawan ujaran kebencian.
Baca Juga: BEI Targetkan 1.200 Perusahaan IPO dan Valuasi Rp20 Ribu Triliun pada 2029
“Platform digital bisa menjadi ruang produktif bagi pemuda untuk menebarkan nilai toleransi, meng-counter ujaran kebencian, dan membangun narasi persatuan,” jelas Zainul.
Ia mengajak komunitas-komunitas pemuda lintas agama untuk terus memperkuat jejaring kerja sama dan kolaborasi.
Karena, menurut Zainul, kesatuan bangsa hanya dapat diraih melalui sinergi yang berkelanjutan antar elemen masyarakat.
Baca Juga: Oscar Darmawan Pilih Bitcoin untuk Keamanan Investasi, Waspadai Ancaman Teknologi Kuantum
“Toleransi atau kerukunan harus menjadi nilai yang kita tanamkan di setiap generasi. Tanpa itu, fondasi persatuan akan rapuh,” tegasnya.
Pesan yang disampaikan kedua tokoh tersebut menegaskan bahwa toleransi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan yang strategis bagi kelangsungan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa.
Dalam konteks global yang sedang diuji tantangan seperti radikalisme, intoleransi, dan disinformasi, peran pemuda sebagai agen perdamaian menjadi investasi sosial jangka panjang yang sangat berharga. (gha)
Artikel Terkait
Forkopimda Lumajang Gelar Nonton Bareng Film Believe untuk Kobarkan Semangat Keberanian dan Nasionalisme Anak Bangsa
Film "Believe" Mengobarkan Semangat Perjuangan dan Persatuan di Lumajang
Perlindungan Terpadu Perempuan dan Anak di Lumajang: Sinergi Pemerintah dan Komunitas untuk Cegah Kekerasan
Peran Strategis Pensiunan di Lumajang: Pengalaman, Kebijaksanaan, dan Jejaring Sosial untuk Pembinaan Generasi Muda
Bupati Lumajang Tekankan Pentingnya Peran Strategis Pensiunan PNS dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Generasi Muda