• Sabtu, 18 April 2026

Jumlah Pemudik Anjlok 24%! Bagaimana Nasib Ekonomi Malang Raya Saat Lebaran? Ini Respon Puguh Wiji Pamungkas

Photo Author
Baharudin Gia, Wartajatim.co.id
- Rabu, 26 Maret 2025 | 20:35 WIB
Puguh Wiji Pamungkas. (dok.Istimewa)
Puguh Wiji Pamungkas. (dok.Istimewa)

WartaJatim.CO.ID - Perayaan Lebaran 2025 tampaknya tidak akan semeriah tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan proyeksi Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik tahun ini diprediksi turun drastis hingga 24 persen dibandingkan tahun lalu.

Jika pada 2024 jumlah pemudik mencapai 193,6 juta orang, tahun ini hanya sekitar 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari total penduduk Indonesia yang akan pulang kampung.

Penurunan ini disinyalir akibat tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Polemik Pemindahan SMAN 8 Malang, Puguh Wiji Pamungkas: Ini Momentum Pemerataan Pendidikan!

Lonjakan harga kebutuhan pokok serta maraknya isu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi faktor utama yang menghambat niat masyarakat untuk mudik.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga pada perputaran ekonomi di daerah tujuan mudik, termasuk Malang Raya yang menjadi salah satu destinasi favorit pemudik.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menyatakan bahwa penurunan jumlah pemudik tahun ini membawa dampak serius bagi sektor ekonomi lokal, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri pariwisata.

Baca Juga: Puguh Wiji Pamungkas: Porprov Harus Berkualitas untuk Masa Depan Atlet dan Ekonomi Jawa Timur!

"Menurunnya angka pemudik pada Lebaran tahun ini tentu menjadi kabar buruk bagi gairah ekonomi lokal, terutama bagi UMKM dan sektor pariwisata yang mengandalkan lonjakan kunjungan saat libur Lebaran. Dengan jumlah pemudik yang berkurang, pergerakan ekonomi di daerah tujuan mudik seperti Malang Raya akan terdampak cukup signifikan," ungkap Puguh dalam wawancara pada Senin (25/3/2025).

Tak hanya itu, berdasarkan perhitungan, jika 46,5 juta orang tidak mudik dengan estimasi pengeluaran rata-rata Rp2 juta hingga Rp5 juta per orang, maka potensi kontraksi peredaran uang bisa mencapai Rp93 triliun hingga Rp232 triliun.

Kondisi ini tentu memberikan tekanan besar bagi perekonomian daerah yang selama ini sangat bergantung pada belanja pemudik.

Baca Juga: Puguh DPRD Jatim Sambut Baik Surat Edaran Dinas Pendidikan Terkait Peniadaan Wisuda

Sektor informal seperti pedagang kaki lima di terminal, pasar tradisional, serta usaha kecil lainnya diprediksi menjadi kelompok yang paling terdampak.

Dengan menurunnya jumlah pemudik, daya beli masyarakat lokal pun diperkirakan ikut melemah, yang berpotensi menurunkan omzet para pelaku usaha.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Baharudin Gia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X