"Menyangkut kepentingan kebanggaan nasional, soal kepentingan data, soal lapangan kerja, dan jaring pengaman ekonomi nasional," terangnya.
Baca Juga: Tokopedia Lakukan PHK Pasca-Akuisisi TikTok
Kekhawatiran utama yang disuarakan para pakar adalah potensi hilangnya kendali Indonesia atas data pengguna dan aliran pendapatan yang akan lebih banyak mengalir ke Singapura sebagai negara tempat kantor pusat Grab berada.
Selain itu, merger ini juga dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan persaingan yang sehat di pasar, yang pada akhirnya bisa merugikan konsumen dan mitra pengemudi.
Rhenald mengakhiri pernyataannya dengan pertanyaan retoris yang sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah: "Bukankah dalam setiap hal yang menyangkut keempat hal strategis itu, negara biasanya turun tangan?"
Baca Juga: Dirut PT Timah Ungkap Lonjakan Tambang Ilegal di Wilayah IUP Setelah Kasus Korupsi Harvey Moeis
Hingga berita ini diturunkan, baik Grab maupun GoTo belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rumor merger tersebut.
Sementara itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga belum memberikan tanggapan resmi mengenai kemungkinan penggabungan kedua perusahaan teknologi tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kebijakan yang melindungi kepentingan nasional di era ekonomi digital.
Baca Juga: THR untuk Driver Gojek & Grab! Kemnaker Buka Posko Aduan, Aplikator Tak Bisa Menghindar?
Hal ini terutama krusial ketika menyangkut perusahaan-perusahaan teknologi yang menjadi tulang punggung ekonomi dan melayani mayoritas populasi Indonesia.
Perdebatan mengenai merger Grab-GoTo kemungkinan akan terus berlanjut dan menjadi sorotan publik dalam waktu dekat. (SAZ)
Penulis: Sabrina Zainita
Artikel Terkait
BPOM Beri Lampu Hijau Vaksin TBC M72 Pendanaan Bill Gates, Indonesia Jadi Lokasi Uji Klinis
Setelah Program Pendidikan Karakter di Barak TNI Gagasan Dedi Mulyadi, Kini Siswa di Jabar Dilarang Membawa HP ke Sekolah
Dirut PT Timah Ungkap Lonjakan Tambang Ilegal di Wilayah IUP Setelah Kasus Korupsi Harvey Moeis
Mantan Menteri Pertanian SYL Dieksekusi ke Lapas Sukamiskin, Jalani Vonis 12 Tahun
Jokowi Tanggapi Meme Viral Bikinan Mahasiswa ITB: Ekspresi Demokrasi Harus Punya Batas