• Sabtu, 18 April 2026

Kisah Nyata di Balik Tragedi Ponpes Al Khoziny: Salat di Bawah Puing hingga Sadar Setelah Tiga Hari

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Kamis, 9 Oktober 2025 | 15:06 WIB
Mengintip sederet momen dramatis penyelamatan korban insiden runtuhnya bangunan 3 lantai di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo.  (X.com/@basarnas114yyk)
Mengintip sederet momen dramatis penyelamatan korban insiden runtuhnya bangunan 3 lantai di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo. (X.com/@basarnas114yyk)

WartaJatim.CO.ID - Publik Tanah Air masih berduka atas insiden ambruknya musala tiga lantai milik Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, 29 September 2025 lalu.

Peristiwa tragis itu bukan hanya menyisakan tumpukan puing dan korban jiwa, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah luar biasa dari para santri yang berhasil selamat.

Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, menyebut hingga Sabtu, 4 Oktober 2025, total korban mencapai 118 orang — 14 meninggal dunia dan 104 selamat.

“Jumlah total sekarang 118 orang, dengan rincian 14 meninggal dunia dan 104 selamat,” kata Nanang di lokasi kejadian.

Baca Juga: AHY dan Menag Gerak Cepat Usai Musala Ponpes Al Khoziny Ambruk, Ungkap Fakta Izin Bangunan Miris

Terpaksa Diamputasi di Bawah Puing

Salah satu kisah paling mengguncang datang dari Nur Ahmad, santri yang terjebak di bawah reruntuhan hingga tangannya harus diamputasi agar bisa keluar hidup-hidup.

Operasi darurat itu dilakukan langsung di lokasi kejadian oleh tenaga medis dr. Aaron Franklyn Suaduon Simatupang, di tengah kondisi yang penuh risiko.

“Pikiran saya, saya sudah siap mati sama pasien kalau bangunan itu runtuh. Karena itu sangat berbahaya, salah gerak sedikit ambruk,” ujar Aaron, Jumat, 3 Oktober 2025.

Proses penyelamatan berlangsung dramatis dan baru selesai sekitar pukul 01.30 WIB. Setelah tangannya diamputasi, Ahmad langsung dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif.

Baca Juga: 9 Hari Evakuasi Ponpes Al Khoziny: 67 Santri Tewas, Polda Jatim Siapkan Langkah Hukum

Bertahan Hidup 3 Hari Tanpa Makan dan Minum

Kisah serupa dialami Syaiful Rosi Abdillah (13). Ia harus menjalani amputasi kaki setelah tiga hari terjepit beton berat. Selama terjebak, Rosi bertahan hidup tanpa makanan dan hanya berzikir di tengah kegelapan.

“Kami minta tolong bareng-bareng, tapi nggak kedengaran. Baru jam 12 malam ada orang kampung datang bantuin,” ujarnya di RSUD Sidoarjo.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X