Baca Juga: Layang-Layang Bikin Whoosh Mogok! KCIC Catat 50 Insiden, Kereta Cepat Tertunda hingga 50 Menit
Menanggapi hal itu, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, membeberkan dua skema penyelesaian utang yang tengah disiapkan.
Pertama, menambah penyertaan modal agar perusahaan bisa mandiri secara operasional. Kedua, menyerahkan infrastruktur proyek menjadi milik pemerintah seperti sistem perkeretaapian nasional lainnya.
“Utang pembangunannya cukup besar, tapi operasional Whoosh sudah berjalan baik. Dua opsi ini yang sedang kami pertimbangkan,” ujarnya.
Dony menilai proyek Whoosh membawa dampak positif dalam meningkatkan mobilitas masyarakat dan efisiensi waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung.
Baca Juga: Wamendagri: 86 Kepala Daerah Akan Hadiri Retret di IPDN Jatinangor, Naik Whoosh ke Bandung
Dengan nilai utang mencapai 7,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp116 triliun, restrukturisasi dinilai sebagai jalan realistis untuk menjaga stabilitas keuangan proyek tanpa membebani APBN.
Pemerintah berharap langkah ini bisa memperkuat kemandirian pembiayaan infrastruktur di masa mendatang.
(HCY)
Artikel Terkait
Pengaruh Pernyataan Luhut terhadap Pasar Mobil Bensin: Apa yang Perlu Anda Ketahui
Soroti Rupiah yang Tembus Rp17.000-an, Luhut Klaim Masih di Batas Normal dan Sebut Indonesia Masih Diminati Investor Tiongkok
Banyuwangi Jadi Pilot Project Nasional MPP Digital, Dapat Apresiasi Luhut dan Tito
Luhut Yakini Menkeu Purbaya Mampu Realisasikan Target Ekonomi Nasional
Menkeu Purbaya Tegas Tolak Dana APBN untuk Proyek Family Office Luhut, Anggaran Publik Jadi Prioritas