wartajatim.co.id - Langkah berani Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, langsung memicu sorotan publik. Belum genap sebulan menjabat, ia sudah menyuntikkan dana pemerintah senilai Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank Himpunan Milik Negara (Himbara).
Dana jumbo itu dialirkan ke Bank Mandiri, BRI, BTN, BNI, dan BSI untuk mempercepat perputaran likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Sudah saya setujui tadi pagi. Saya pastikan dana tersebut akan masuk ke sistem perbankan hari ini,” tegas Purbaya di Jakarta, Sabtu (13/9/2025).
Perdebatan Publik: Rezim Ibu vs Bapak Kebijakan cepat Purbaya ini menimbulkan diskusi hangat. Mantan Ketua KPK, Abraham Samad, menilai keputusan itu mengejutkan banyak pihak.
“Rp200 triliun ini katanya bisa jadi kredit untuk mendanai UMKM dan sebagainya,” ujarnya dalam podcast Speak Up (18/9/2025).
Sementara itu, ekonom senior Yanwar Rizky menyoroti gaya pengelolaan uang negara antara Purbaya dan Sri Mulyani. Ia menyebut istilah “rezim ibu vs rezim bapak”. Menurutnya, gaya Sri Mulyani mencerminkan sikap kehati-hatian seorang ibu.
“Kalau ibu-ibu, biasanya lebih pelit, uang sering ditahan karena realisasi belanja dinilai belum memenuhi tata kelola,” jelas Yanwar.
Berbeda dengan itu, rezim bapak lebih longgar di depan namun tegas di belakang. “Kalau bapak-bapak biasanya kasih dulu, tapi kalau ada masalah, siap diganyang,” tambahnya.
Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Kisah Pilu Sri Mulyani Usai Penjarahan: Kecewa Berat Disamakan dengan Sahroni
Teori Friedman di Balik Gebrakan Purbaya Yanwar menyebut Purbaya menganut teori likuiditas Milton Friedman yang menekankan agar uang tidak dibiarkan mengendap. “Uang itu harus keluar, harus jalan. Itu yang jadi dasar langkah cepat Purbaya,” paparnya.
Langkah tersebut dinilai mencerminkan karakter Purbaya yang berbeda dari Sri Mulyani. Jika pendahulunya dikenal berhati-hati, Purbaya justru memilih mempercepat sirkulasi uang demi menopang pertumbuhan ekonomi, termasuk untuk sektor UMKM.
Dampak dan Ekspektasi Kebijakan ini menuai beragam reaksi. Ada yang menganggap gebrakan Purbaya sebagai upaya progresif menggerakkan ekonomi, sementara sebagian lain khawatir soal kontrol penggunaan dana besar tersebut.
Artikel Terkait
Usai Rumahnya Dijarah, Sri Mulyani Dapat Dukungan Publik Lewat Karangan Bunga dan Pesan Harapan
Sri Mulyani Angkat Bicara Usai Rumahnya Dijarah, Kenang Lukisan 17 Tahun yang Raib Dibawa Oknum Demo
Rekam Jejak Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Engineer Schlumberger, Ekonom Danareksa, hingga Jadi Menteri Keuangan RI
Pro Kontra Cukai Rokok 2026, Purbaya: “Mendingan Hidupin Industri Kita, Jangan yang Ilegal”
Pemerintah Siapkan Teknologi PLTS untuk Pangkas Subsidi Listrik, Menkeu Purbaya Pastikan Harga Tak Melonjak
Gebrakan Baru Menkeu Purbaya: Janji Lunasi Rp55 Triliun, Tegur BUMN, dan Sidak Bank Pelat Merah