Namun, kecurigaan mulai muncul ketika ditemukan beberapa kejanggalan pada tubuh korban.
Proses penyidikan pun dilakukan lebih dalam, dan akhirnya mengarah pada kesimpulan bahwa ini adalah pembunuhan berencana.
Lebih mengejutkan lagi, hasil penyidikan juga mengindikasikan bahwa Juwita sempat mengalami pemerkosaan sebelum nyawanya direnggut.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa motif pembunuhan berhubungan langsung dengan upaya pelaku menghilangkan jejak kejahatan seksual tersebut.
“Karena korban memiliki bukti pemerkosaan, HP miliknya diambil dan dihancurkan oleh pelaku,” lanjut Dedi dengan nada serius.
Tindakan brutal Jumran ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap jurnalis di tanah air.
Meninggalnya Juwita tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memicu kemarahan publik, terutama di kalangan jurnalis dan aktivis kebebasan pers.
Kasus ini menegaskan kembali pentingnya perlindungan hukum bagi pekerja media yang kerap menjadi sasaran kekerasan.
Pihak keluarga berharap agar proses hukum dijalankan dengan tegas dan transparan, serta pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai undang-undang yang berlaku.
Sementara itu, pihak militer belum memberikan pernyataan resmi terkait sanksi internal terhadap Jumran.
Namun publik menanti langkah konkret dari institusi TNI AL dalam menegakkan disiplin dan hukum terhadap anggotanya yang melakukan tindak kriminal.