Banyak warganet menganggap bahwa pemerintah AS terlalu memprioritaskan kepentingan geopolitik dibanding kesejahteraan konsumen domestik.
Meski pemerintahan Trump menyebut kesepakatan ini sebagai langkah maju dalam menekan defisit dagang dan memperluas pasar ekspor.
Namun, para ekonom memperingatkan adanya risiko inflasi harga barang-barang rumah tangga, terutama yang berasal dari Indonesia seperti tekstil, makanan kemasan, dan peralatan rumah tangga.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih maupun Istana Negara terkait reaksi publik yang berkembang.
Baca Juga: Obrolan Hangat Prabowo dan Trump Terungkap: Tarif Ekspor 19 Persen dan Akses Pasar Bebas
Sementara itu, berbagai lembaga konsumen di AS mulai mendorong dilakukannya audit publik terhadap dampak nyata dari kesepakatan perdagangan ini terhadap ekonomi rumah tangga.
(DP)