Banyak warganet menganggap bahwa pemerintah AS terlalu memprioritaskan kepentingan geopolitik dibanding kesejahteraan konsumen domestik.
Meski pemerintahan Trump menyebut kesepakatan ini sebagai langkah maju dalam menekan defisit dagang dan memperluas pasar ekspor.
Namun, para ekonom memperingatkan adanya risiko inflasi harga barang-barang rumah tangga, terutama yang berasal dari Indonesia seperti tekstil, makanan kemasan, dan peralatan rumah tangga.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih maupun Istana Negara terkait reaksi publik yang berkembang.
Baca Juga: Obrolan Hangat Prabowo dan Trump Terungkap: Tarif Ekspor 19 Persen dan Akses Pasar Bebas
Sementara itu, berbagai lembaga konsumen di AS mulai mendorong dilakukannya audit publik terhadap dampak nyata dari kesepakatan perdagangan ini terhadap ekonomi rumah tangga.
(DP)
Artikel Terkait
Tarif Resiprokal Presiden AS Donald Trump Berlaku Hari Ini, Termasuk Aturan Impor 104 Persen ke China
Elon Musk Gagal Bujuk Donald Trump Batalkan Tarif Impor: Ekonom Prediksi Harga Mobil akan Meroket
Update Perang Dagang AS vs China: Australia Tolak Ajakan Negeri Tirai Bambu untuk Lawan Tarif Resiprokal Donald Trump
Seskab Teddy Beri Bocoran Pembicaraan, Presiden Prabowo Ditelepon Donald Trump Selama 15 Menit
Trump Mau Naikkan Tarif Impor 32% untuk Produk RI, Pemerintah Kirim Tim Negosiasi ke AS
Jaksa AS Ancam Gugat Microsoft hingga OpenAI karena Chatbot AI yang Diduga Lecehkan Nama Donald Trump