“Perasaan saya senang sekali setelah tahu tempatnya nyaman. Daripada di rumah main terus, di sini anak saya lebih terarah. Hati saya juga lega, apalagi semuanya gratis,” tutur Tutik.
Tutik adalah seorang ibu yang telah berjuang sendiri selama sembilan tahun setelah ditinggal wafat suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia berjualan es dan camilan di sekitar desa meski penghasilannya terbatas.
Semangat yang sama terlihat dari Yesi, siswi SMA asal Kecamatan Siliragung. Ia memilih kembali ke Banyuwangi setelah sebelumnya menempuh pendidikan di Tulungagung, karena ingin merawat neneknya yang sakit. Melalui rekomendasi pendeta, ia akhirnya bergabung dengan Sekolah Rakyat.
“Awalnya saya mau sekolah di SMK PGRI, lalu saya direkomendasikan oleh pendeta saya bahwa ada sekolah program presiden. Saya tertarik, karena memang kami kurang mampu akhirnya saya memutuskan untuk sekolah di sini,” kata Yesi.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Perkuat Program Kesehatan Lintas Sektor untuk Wujudkan Kota Sehat Berkelanjutan
Yesi bertekad untuk tekun belajar agar dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan cita-cita menjadi seorang psikolog.
Selain fokus akademik, ia juga mengembangkan minatnya di bidang seni, terutama menyanyi dan menari.
Bupati Ipuk pun memberikan doa serta semangat kepada seluruh siswa yang memulai langkah baru di Sekolah Rakyat.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Perkuat Program Kesehatan Lintas Sektor untuk Wujudkan Kota Sehat Berkelanjutan
“Semoga apapun cita cita kalian mudah-mudahan bisa diwujudkan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jadikan Sekolah Rakyat ini jadi langkah awal untuk mewujudkan harapan apapun di masa depan,” pesan Ipuk. (gha)
Artikel Terkait
Momen haru terjadi saat Bupati Ipuk menenangkan siswi Sekolah Rakyat Banyuwangi yang menangis rindu ibunya.
Wakil Bupati Malang Bahas Sekolah Rakyat, Revitalisasi Pasar Lawang, dan Tol Malang–Kepanjen Bersama Dirjen PU
Bupati Bangkalan Dampingi Mensos Gus Ipul Tinjau Sekolah Rakyat yang Segera Mulai MPLS pada Akhir September
Bupati Bangkalan Lukman Hakim Dukung Sekolah Rakyat dan DTSEN sebagai Strategi Pengentasan Kemiskinan di Madura
Sekolah Rakyat Terintegrasi 48 Kabupaten Pasuruan Siap Mendidik 75 Siswa Baru dari SD hingga SLTA