• Sabtu, 18 April 2026

Curhat Kepala BPS soal Netizen yang Salah Tafsir Data: Literasi Statistik Jadi Kunci

Photo Author
Novia Rizky Amelia, Wartajatim.co.id
- Rabu, 3 September 2025 | 14:09 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti. (Instagram.com/@amalia.adininggar)   (Instagram.com/@amalia.adininggar)
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti. (Instagram.com/@amalia.adininggar) (Instagram.com/@amalia.adininggar)

 

wartajatim.CO.ID - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menyoroti fenomena rendahnya literasi data di kalangan warganet Indonesia. Menurutnya, banyak masyarakat yang aktif membicarakan data di media sosial, namun kerap menafsirkan informasi secara tidak tepat.

Sorotan ini disampaikan Amalia dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat, pada Selasa, 26 Agustus 2025. Ia menekankan pentingnya pemahaman statistik agar masyarakat tidak mudah keliru saat mengomentari data resmi.

“Ini bapak dan ibu kelihatan di dalam perbincangan netizen, bahwa kita menurunkan garis kemiskinan, itu sebenarnya tidak benar,” ujar Amalia di hadapan anggota DPR. “Masyarakat kadang-kadang ingin ikut berbicara tentang data, tetapi cara membaca dan menerjemahkan data itu masih belum pas,” tambahnya.

Baca Juga: Prabowo: Tingkat Pengangguran Indonesia Turun, Terendah Sejak 1998 Menurut Data BPS

Amalia mencontohkan isu garis kemiskinan yang kerap menjadi sorotan publik. Pada Maret 2025, BPS mencatat garis kemiskinan sebesar Rp609.160 per kapita. Namun, angka tersebut banyak dinilai terlalu rendah oleh sebagian masyarakat. Padahal, jelas Amalia, garis kemiskinan itu selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Menurutnya, garis kemiskinan seharusnya tidak hanya dipahami secara individu, tetapi juga pada level rumah tangga. Ia menggambarkan bahwa tingkat pengeluaran rumah tangga menjadi indikator yang lebih tepat untuk mengukur kesejahteraan.

“Garis kemiskinan Rp609.160 itu harus diterjemahkan ke garis kemiskinan rumah tangga. Pendapatan dan pengeluaran rumah tangga itulah yang menentukan tingkat kesejahteraan,” jelasnya.

Baca Juga: Ramai Isu Pembatalan Tunjangan DPR, Ketua Fraksi Demokrat Ibas Tegaskan Siap Terima Evaluasi

Berdasarkan perhitungan BPS, rumah tangga dengan pengeluaran di atas Rp2,875 juta per bulan dapat dikategorikan tidak miskin. Namun, Amalia menegaskan bahwa pengeluaran sebesar Rp3 juta per bulan bukan berarti otomatis masuk ke golongan kaya.

“Di atas rentan miskin ada yang menuju kelas menengah, dan di atas kelas menengah masih ada keluarga yang sejahtera,” terangnya.

Amalia mengajak masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan literasi statistik agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam membaca data. Menurutnya, pemahaman yang benar sangat penting, mengingat data statistik berperan besar dalam menentukan arah kebijakan pembangunan.

Baca Juga: Curhat Perdana Dirut Baru KAI ke DPR, Bobby Rasyidin: Dari Pertahanan Kini Urus Transportasi Publik

“Perlu memang betul kita bersama-sama meningkatkan literasi, bagaimana cara membaca garis kemiskinan yang pas,” pungkasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia Rizky Amelia

Sumber: promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X