Di sisi lain, kritik keras juga datang dari ahli gizi Tan Shot Yen, yang menilai menu MBG saat ini justru mencerminkan ketergantungan pada pangan impor.
“Yang dibagi burger, padahal gandum tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia. Anak-anak malah jadi konsumtif terhadap pangan impor,” ungkap Tan.
Menanggapi kritik tersebut, Nanik menjelaskan bahwa menu seperti burger atau spaghetti hanya disajikan sesekali atas permintaan siswa. “Anak-anak boleh request seminggu sekali supaya tidak bosan. Jadi bukan menu harian,” tandasnya.
Meski begitu, perdebatan di Senayan menunjukkan bahwa publik menunggu sikap tegas BGN dalam meniadakan menu UPF dari MBG.
Ketegasan itu dianggap penting, tidak hanya untuk menjaga kesehatan anak-anak penerima manfaat, tetapi juga untuk memastikan program ini benar-benar berpihak pada pangan lokal dan UMKM.
(HCY)
Artikel Terkait
Menkes Budi Gunadi Sadikin Ungkap Strategi Baru Atasi Keracunan MBG: SPPG Wajib SLHS, Puskesmas Ikut Awasi
Said Abdullah Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur MBG usai 5.620 Siswa Keracunan
Tragedi Keracunan Massal MBG di KBB: Fakta Bakteri Pembusuk hingga Usulan Dapur Sekolah
Evaluasi MBG: DPR Tekankan Perbaikan Sanitasi, Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur Aman Bergizi
Wartawan Diduga Dianiaya Saat Liput MBG Pasar Rebo, Program Pemerintah Kembali Tuai Kontroversi
Dapur MBG Panakkukang Makassar Tutup, Ratusan Siswa Kehilangan Makan Gratis dan 50 Pekerja Dirumahkan