Untuk keberlanjutan, ia menyisihkan sebagian hasil penjualan telur agar dapat membeli pakan sendiri setelah bantuan habis. Hasil panen kemudian dijual ke toko kelontong dengan harga antara Rp24.500 hingga Rp26.000 per kilogram.
“Ya sedikit banyak setiap hari pasti disisihkan, ke depan kan juga harus mandiri untuk membeli pakan sendiri, terlebih dua tahun lagi juga harus re-generasi ayamnya jika sudah tidak bertelur,” ungkapnya.
Sekretaris Desa Piyak, Saeful, menegaskan keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro serta Pemkab Bojonegoro yang memberi perhatian penuh.
Program GAYATRI menjadi salah satu prioritas Bupati Wahono melalui alokasi Dana Desa (ADD) Tahun 2025. Desa Piyak pun tercatat sebagai salah satu desa tercepat dalam merealisasikan program tersebut.
Baca Juga: Demo Buruh 28 Agustus 2025: Mahasiswa dan Pelajar Turun ke Jalan, Said Iqbal Ingatkan Aparat
Ia menyebutkan, sejak Mei lalu sebanyak lima keluarga penerima manfaat telah mendapatkan bantuan ayam petelur.
Saat ini, seluruh penerima sudah menikmati hasil panen dengan tingkat produktivitas yang mencapai 100 persen.
Puluhan calon penerima manfaat lain juga tengah menunggu proses verifikasi agar dapat mengikuti program serupa.
“Harapannya warga bisa memanfaatkan ini sebaik-baiknya sehingga bisa menjadi mata pencaharian tetap. Dan semoga warga bisa mengatur dari penjualan telur untuk keberlangsungan ternak ke depan,” tutur Saeful. (gha)
Artikel Terkait
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Luncurkan Program GAYATRI: Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri
Sinergi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan ExxonMobil Luncurkan Program GAYATRI untuk Atasi Kemiskinan dan Stunting di 16 Desa
Pemkab Bojonegoro Tingkatkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Lewat Program GAYATRI dan Pelatihan IKM
Program GAYATRI Bojonegoro Berdayakan Warga Lewat Pelatihan dan Usaha Ternak Ayam Petelur
Pemkab Bojonegoro Gelar Gerakan Pangan Murah di Desa Kapas untuk Stabilkan Harga Sembako Warga