wartajatim.co.id - Kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) kembali memicu perdebatan panas. Departemen Perdagangan AS mengumumkan perluasan bea masuk terhadap 407 kategori produk berbahan baja dan aluminium. Aturan baru ini langsung berlaku efektif pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Produk yang terdampak tidak hanya barang industri berat seperti turbin angin, buldoser, atau kompresor, tetapi juga merambah ke produk konsumsi sehari-hari, termasuk furnitur, gerbong kereta, hingga suku cadang otomotif.
Tarif tambahan yang dikenakan mencapai 50 persen atas kandungan baja dan aluminium di dalam produk impor tersebut.
Pejabat Kementerian Industri dan Keamanan AS, Jeffrey Kessler, menegaskan kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat industri dalam negeri.
Baca Juga: Bitcoin Pecahkan Rekor Rp1,93 Miliar per Koin, Langsung Anjlok Setelah Inflasi AS Guncang Pasar
“Langkah ini memperluas cakupan tarif baja dan aluminium serta menutup celah penghindaran. Kami ingin mendukung revitalisasi industri baja dan aluminium Amerika,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera.
Namun, keputusan ini tidak sepenuhnya disambut positif. Produsen otomotif asing melontarkan kritik keras karena kapasitas produksi baja dalam negeri AS dianggap belum mencukupi kebutuhan pasar. Kekhawatiran mereka, rantai pasok industri otomotif bisa terganggu akibat keterbatasan pasokan bahan baku.
Di sisi lain, perusahaan baja lokal seperti Cleveland-Cliffs justru mendukung langkah tersebut. Mereka sebelumnya bahkan mendorong agar lebih banyak komponen otomotif masuk ke dalam daftar produk dengan tarif tinggi.
Dampak nyata dari kebijakan ini sudah mulai dirasakan. Retailer raksasa AS, Home Depot, mengumumkan akan melakukan penyesuaian harga pada sejumlah barang impor. “Akan ada pergerakan harga moderat di beberapa kategori produk,” kata Chief Financial Officer Home Depot, Richard McPhail.
Tak hanya sektor ritel, produsen furnitur global Procter & Gamble juga mengumumkan kenaikan harga pada seperempat produk mereka. Hal ini menunjukkan bahwa lonjakan biaya akibat tarif impor tidak bisa dihindari dan pada akhirnya akan ditanggung konsumen.
Para analis memprediksi harga produk berbahan baja dan aluminium di pasar AS akan terus meningkat. Imbasnya, masyarakat luas kemungkinan merasakan langsung lonjakan harga di sektor otomotif, furnitur, hingga barang rumah tangga.
Baca Juga: Perusahaan China Serbu Indonesia untuk Hindari Tarif AS, Harga Lahan Industri Melonjak
Artikel Terkait
Menkomdigi Tegaskan Isu Transfer Data ke AS Tak Bebas, Tapi Diatur dalam Koridor Perlindungan Hukum
Soal Deal Tarif RI-AS 19 Persen, Menko Airlangga Jelaskan Transfer Data Pribadi Termasuk dalam Kesepakatan
Thailand-Kamboja Kompak Hentikan Konflik, Gencatan Senjata Terjadi Usai Ancaman Trump Soal Tarif Impor
RI Dikenai Tarif 19 Persen oleh AS, Mendag Budi Santoso Sebut Ini Peluang Emas Tarik Investasi dan Dongkrak Ekspor
AS Naikkan Tarif Impor Jadi 50 Persen untuk India, Imbas Pembelian Minyak dari Rusia
Industri Jepang Rugi 100 Juta Yen per Jam! Jepang Paksa AS Turunkan Tarif Mobil